Link

Online

Pengunjung: 4, Anggota: 0...
paling banyak online: 61
(anggota: 0, pengunjung: 61) pada 06 Jun : 16:23
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom

Beasiswa Bank Indonesia

50 Mahasiswa Universitas Bung Hatta dapat Beasiswa dari Bank Indonesia (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Dosen FPIK Menjadi Narasumber Dalam Kegiatan Seminar

Dosen FPIK Menjadi Narasumber Dalam Kegiatan Seminar yang Dilaksanakan Oleh DKP Provinsi Sumatera Barat (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Selamat Datang Mahasiswa Baru FPIK Tahun 2019

. (Y.E/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

2 ORANG DOSEN PRODI PSP DAN PRODI BDP MELAKSANAKAN PKM DI NAGARI SUNGAI PINANG, KABUPATEN PESISIR

2 ORANG DOSEN PRODI PSP DAN PRODI BDP MELAKSANAKAN PKM DI NAGARI SUNGAI PINANG, KABUPATEN PESISIR (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

PKM Prodi PSP di UPTD Sentra Pengolahan Ikan Teri Pasia Nan Tigo

Penyuluhan tentang Proses Sertifikat HACCP Produk Ikan Teri (Y.E/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

ALUMNI FAKULTAS PERIKANAN UNIVERSITAS BUNG HATTA PENGGERAK DALAM BIDANG AGRIBISNIS PERIKANAN TANGKAP DI SUMATERA BARAT

Senin 29 Juli 2019 - 04:31:12

gambar: hendra_yama_putra Padang, FPIK UBH - Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, bak pepatah mengatakan bahwa air cucuran atap jatuhnya kepelambahan juga, pepatah ini benar adanya, baik dari sikap dan perilaku dari seorang anak, hampir mirip sikap perilaku yang diturunkan sang bapak kepada anaknya, menurut pakar perilaku (Holdan, 2017). Pada umunya para investor ragu untuk berinvestasi di bisnis sektor perikanan tangkap, karena besarnya resiko yang dihadapi. Namun bagi para alumni universitas Bung Hatta khususnya alumni Fakultas Perikanan hal ini menjadi tantangan yang menggelitik naluri maritimnya untuk mengarungi Samudera Hindia untuk mengadu nasib di sektor ini. Menurut doni alumni 1998, dan Hendra Yama Putra anggota dewan dua periode di Pasaman Barat alumni 1997. Gambaran ini menunjukkan bahwa, yang mampu mengelola samudera Hindia sebagai lahan untuk bisnis perikanan tangkap hanya mampu dilakukan oleh anak-anak nelayan, karena gelora laut dengan gelombang yang laut yang tinggi hanya mampu ditaklukan oleh mereka.

Sedikit sekali para pebisnis perikanan tangkap berasal dari luar yang latar belakang orang tuanya bukan nelayan. Baik doni dan hendra yama putra orang tua mereka berasal dari nelayan bagan, oleh karena kebijakan kementerian kelautan dan perikanan bahwa bagan dilarang dioperasikan, disebabkan termasuk alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Maka bisnis ini diambil alih oleh anak-anak mereka yang telah jadi sarjana perikanan. Berkat teknologi informasi, mereka pelajari alat tangkap yang teknologinya lebih baik dari alat tangkap bagan yaitu: alat tangkap purse seine (pukat cincin). Pukat cincin pertama sekali diperkenalkan oleh nelayan dari Sibolga Sumatera Utara, yang singgah ke Air Bangis untuk mengisi bahan bakar dan ransum. Oleh karena sering singgah maka terjadi pertukaran informasi tentang alat ini. Pertama sekali pukat cincin berkembang di Sumatera Barat di Air Bangis dengan nama kapal Gurita 01 – 08. Namun bisnis ini kandas ditengah jalan disebabkan oleh pecah kongsi dan terbatasnya infra struktur dan fasilitas di pelabuhan seperti: Es, Transportasi, BBM, dan Cold Storage. Pada saat ini di Kecamatan sasak Ranah Pasisie Pasaman Barat bisnis perikanan tangkap dengan alat tangkap purse seine (pukat cicncin) berkembang pada saat ini sebanyak 22 unit. Satu unit pukat cicncin menelan investasi berkisar 1.5 – 2 Mliyar. Kedua alumni ini (Doni dan Hendra) mereka memiliki 7 dan 3 unit alat tangkap pukat cicncin tersebut. Bisnis perikanan tangkap ini merupakan bisnis keluarga sehingga mereka saling menjaga dan memilihara silahturahmi agar bisnis ini dapat berjalan dengan baik. Hal ini terlihat awalnya doni hanya memiliki 1 satu unit pukat cincin yang dibeli secara bekas dari nelayan sibolga dan saat ini telah berkembang menjadi 7 unit…luar biasa. Mengapa hal ini berkembang karena dalam bisnis mereka telah menerapkan system management Menurut Hamdi (2012) 6 M dalam operasi penangkapan (Men, Money, Methode, Material, Machine, and Market). Pasar hasil tangkapan mereka telah ada pembelinya baik dari lokal, antar propinsi, dan ke pasar luar Negara seperti : Malaysia dan Singapura. Menurut penulis jika jumlah alat tangkap terus bertambah kemungkinan untuk dikembangkan kearah industry perikanan, terbuka lebar untuk wilayah Pasaman Barat. Seperti industry pengalengan ikan, dan pengolahan hasil perikanan. Oleh karena itu jika ingin menjadi pengusaha perikanan tangkap belajarlah ke Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta agar dapat seperti Doni dan Hendra Yama Putra. Jayalah Maritim Indonesia, Jayalah Nelayan Indonesia, Jagalah laut kita, Negeri kaya rakyat sejahtera…amin. (Dr. Ir. Junaidi, M.Si)
model cetak buat pdf untuk berita ini

PKM Prodi PSP di Sentral Produksi Ikan Teri Pasia Nantigo

Sabtu 27 Juli 2019 - 07:53:03

gambar: penyuluhan_tentang_haccp Padang, FPIK UBH - Tahun Anggaran 2019, dua Tim PKM di Prodi PSP Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta dapat dana Hibah PKM dari Kementrian Riset dan Teknologi. Satu Tim melaksanakan pengabdian di Kawasan Mandeh yang dipimpin oleh Dr. Suparno. Satu Tim lagi dipimpin oleh Dr. Yusra yang melakukan Pemberdayaan Pengolah Ikan Teri di Pasia Nantigo Kecamatan Koto Tangah.

Dr. Yusra dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan yang dilaksanakan di Sentral Produksi Ikan Teri Pasia Nantigo tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas hasil olahan ikan teri yang di produksi oleh masyarakat. Kegiatan dilaksanakan selama satu bulan, dimulai tanggal 27 Juli 2019. Materi pertama yang disikusikan adalah "Penerapan Manajemen Mutu Terpadu "HACCP" yang disampaikan oleh Ir. Yempita Efendi, MS. Menurut Yempita langkah-langkah yang harus diperbaiki oleh pengolah Teri mulai dari Handling ikan teri di kapal, penerimaan bahan baku di Sentral, Cara pencucian ikan yang higyenis, perebusan, pengeringan sampai ke pengepakan. Yempita menambahkan bahwa harus ada niat dari pengolah ikan teri untuk memperbaiki mutu. Produksi harus direncanakan dengan baik, hasil produksi direncanakan di pasarkan untuk segmen pasar dalam negeri atau luar negeri.Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh pengolah ikan teri jika ingin memasarkan produknya dengan baik, harus ada Sertifikat Manajemen Mutu Terpadu / HACCP.

Anggota Tim yang lain, Ainul Mardiah, M.Sc menambahkan, yang perlu diperbaiki proses pembuatan ikan teri di Sentral Produksi Teri ini adalah tata cara pencucian, tata cara perebusan dan pengemasan. (Y.E)
model cetak buat pdf untuk berita ini

LIPI dan Enam Universitas Kawal Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang

Kamis 04 April 2019 - 04:25:27

FPIK, FPIK UBH - Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama dengan enam universitas di Indonesia menandatangani nota kesepakatan Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP) – Coral Triangle Initiative (CTI) 2019 pada Senin (11/3) kemarin. Keenam universitas tersebut adalah Universitas Sam Ratulangi, Universitas Hasanudin, Universitas Diponegoro, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Universitas Mataram, dan Universitas Bung Hatta.
Menurut Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dirhamsyah, kegiatan monitoring dan riset dari COREMAP-CTI merupakan wahana untuk menggali informasi tentang kondisi ekosistem pesisir. “Kegiatan monitoring dan riset ini adalah kegiatan utama dalam penguatan kelembagaan pemantauan ekosistem pesisir. Informasi yang dihasilkan dari kegiatan monitoring dilakukan dengan metode ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan,” jelas Dirhamsyah.

Lebih lanjut Dirhamsyah menerangkan, COREMAP-CTI mempersiapkan kelembagaan daerah agar mampu merehablitasi dan mengelola terumbu karangnya secara mandiri, termasuk kegiatan monitoring kesehatan terumbu karang dan ekosistem terkait lainnya. “LIPI lewat Pusat Penelitian Oseanografi telah membangun simpul COREMAP CTI di beberapa daerah dengan harapan adanya keberlanjutan pelaksanaan monitoring setelah kegiatan fase III ini selesai,” tuturnya.

Executive Secretary COREMAP, Deny Sutisna mengatakan, ini adalah program nasional untuk upaya rehablitasi, konservasi dan pengelolaan ekosistem terumbu karang dan ekosistem terkait secara bekelanjutan. “Program COREMAP dirancang dalam tiga fase seri waktu terdiri dari COREMAP fase I dinisiasi tahun 1998-2004, fase II yang merupakan fase akselerasi dilakukan tahun 2005-2011 dan COREMAP Fase III berupa penguatan kelembagaan dijalankan pada tahun 2014-2022,” terangnya.
Sebagai informasi, COREMAP-CTI bertujuan melembagakan pendekatan yang telah dibentuk pada fase sebelumnya agar dampak kegiatan berlangsung secara berkelanjutan dalam jangka panjang. “COREMAP fase ini merupakan kegiatan kolaborasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai Executing Agency dan LIPI sebagai National Project Implementation Unit),” tutup Deny. (mfn/ed: drs)http://lipi.go.id/berita/lipi-dan-enam-universitas-kawal-rehabilitasi-dan-pengelolaan-terumbu-karang/21567
model cetak buat pdf untuk berita ini

FPIK UBH Turut Andil Perkuat Jejaring Konservasi Penyu

Rabu 12 Desember 2018 - 07:50:21

FPIK, FPIK UBH - Bunghatta.ac.id. Aksi konservasi menetapkan tujuh kawasan Konservasi Sumatera Barat. Empat kawasan konservasi, berfokus pada konservasi penyu. Dalam mengembangkan dan mendukung kehadiran jejaring agar sesama anggota jejaring bisa berkembang dan maju untuk menyelamatkan biota dan kawasan yang dilindungi secara bersama-sama, disusunlah visi pembangunan berkelanjutan.

Jejaring kawasan konservasi ini akan membuat standar SOP dalam menilai keberadaan ekosistem terumbu karang (coral reef) dan populasi penyu (sea turtle) di Sumatera Barat.

Jejaring akan diperkuat dan saling memperkuat dan mengisi di antara kawasan konservasi penyu dan terumbu karang dengan Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) TWP Pieh yang telah memiliki SOP dengan pendekatan "pure conservation".

Dari distribusi kawasan konservasi yang dikelola dengan pendekatan ekowisata konservasi, terlihat bahwa kawasan pantai barat Sumatera Barat dapat menjadi model konservasi biota dan kawasan yang "ideal" serta keikutsertaan dan partisipasi aktif masyarakat, baik yang berada di dalam kawasan maupun yang berada dekat dengan kawasan konservasi.

Peran perguruan tinggi, dalam hal ini Universitas Bung Hatta (UBH), turut andil dengan pengalaman penelitian terumbu karang yang sudah berjalan sejak 1998 untuk wilayah pantai barat Sumatera Barat. Kegiatan penelitian Terumbu Karang akan terus dilakukan yang dimotori oleh Dosen FPIK Universitas Bung Hatta, Dr. Suparno, M.Si dengan melibatkan para alumni (Sanari) dan mahasiswa. Sementara itu, Harfiandri Damanhuri terus bergiat pada penelitian tentang penyu, habitat, dan ekosistem terkait serta pengembangan kawasan ekowisata konservasi yang sudah dirintisnya sejak 1999 lalu.

Tentunya, jejaring ini tidak bisa tidak bekerja sama karena sangat terkait dengan posisi kawasan terumbu karang dan pola migrasi biota penyu serta ekosistem terkait lainnya yang tidak dapat dipisahkan secara ekoregion.

Dalam pertemuan yang konstruktif, semua stakeholders yang terkait dengan penyu dan terumbu karang hadir dan antusias menyampaikan saran-saran dan masukan. Hal baru yang muncul pada pertemuan semua kawasan konservasi adalah "new paradigm" (paradigma baru) tentang perubahan nama dan fungsi pusat penangkaran penyu menjadi "Pusat Rehabilitasi Penyu" yang didukung oleh tenaga medis seorang dokter hewan dan fasilitas pendukung lainnya.

Dirancang dan diharapkan melalui jejaring, ke depan, semua pusat penangkaran secara bertahap akan berubah menjadi "Pusat Rehabilitasi Penyu". Tidak ada lagi pemeliharaan tukik penyu ataupun penyu dewasa, kecuali yang sakit, yang cacat yang dikarantina karena tertangkap atau luka dengan "logbook" yang terdokumentasi dengan baik.

Tentu perubahan ini melalui proses dan akan diperkuat dengan mengaktifkan fungsi pengawasan dan penindakan, melalui FKKP yang sudah di-SK-an oleh Gubernur Sumatera Barat pada 2015.

Pertemuan dilaksankan di Pusat Penangkaran Penyu Pantai Air Manis, UPTD KPSDKP yang difasilitasi oleh PSDKP DKP Sumbar, yang dipimpin oleh Ir. Doni Rahma Saputra, M.Si.
model cetak buat pdf untuk berita ini
Halaman   <<        >>  
Fasilitas Pencarian
Belum ada agenda bulan ini.

SSRKJSM






1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031




Translate This Page
Copyright (c) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta
Dibangun oleh Tim Swakelola PTSS 2009 Univ. Bung Hatta bersama CV. Djamboe WebDesign