Link

Online

Pengunjung: 5, Anggota: 0...
paling banyak online: 177
(anggota: 0, pengunjung: 177) pada 10 Mar : 04:16
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom

Panitia PKKMB 2021

Panita PKKMB 2021 dari BEM FPIK (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Pembekalan Oleh Alunmi

Dr. Joni Haryadi.D, Kepala Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Kementerian Kelautan dan Periknann. Alumni Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta memberikan pembekalan bagi Mahasiwa Baru FPIK 2021 (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Semarak PKKMB 2021

Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2021 yang digelar secara virtual dari Aula Balairung Caraka Kampus 1 Universitas Bung Hatta (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiwa Baru TA 2021/2022

Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiwa Baru TA 2021/2022 (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Cuplikan Keseruan PKKMB FPIK 2021baru

Sabtu 18 September 2021 - 08:18:44

gambar: cuplikan FPIK UBH - Cuplikan keseruan pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta 2021
klik https://youtu.be/IrLt7lQLJ6Q
model cetak buat pdf untuk berita ini

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Bung Hatta

Selasa 31 Agustus 2021 - 02:10:14

gambar: spmbterbaik FPIK UBH - Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Bung Hatta hingga tanggal 11 September 2021. Pendaftaran dapat dilakukan online melalui laman www.spmb.bunghatta.ac.id atau dapat datang langsung ke Kampus 1 Universitas Bung Hatta. Jalan Sumatera Ulak Karang Padang
Informasi Biaya Kuliah Di Universitas Bung Hatta
Selain memilih kampus terbaik dalam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, hal lain yang juga harus jadi bahan pertimbangan adalah biaya kuliah. Sebab, biaya kuliah tidak lah murah. Maka dari itu, penting sekali untuk memikirkan biaya kuliah sejak dini agar tak pusing tujuh keliling nantinya.
Berikut ini adalah daya tampung dan rincian biaya kuliah di Universitas Bung Hatta :
Daya Tampung Program Studi di Universitas Bung Hatta
• Fakultas Ekonomi
• Ekonomi Pembangunan, daya tampung 47 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.000.000,-
• Manajemen, daya tampung 240 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.750.000,-
• Akuntansi, daya tampung 130 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.750.000,-
• Magister Manajemen (S2), daya tampung 50 Mahasiswa, biaya kuliah Rp. 7.000.000,-
• Fakultas Hukum
• Ilmu Hukum, daya tampung 345 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.750.000,-
• Magister Ilmu Hukum (S2), daya tampung 36 Mahasiswa, biaya kuliah Semester I Rp.7.500.000,-
• Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
• Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, daya tampung 30 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.000.000,-
• Pendidikan Bahasa Inggris, daya tampung 37 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.250.000,-
• Pendidikan Matematika, daya tampung 32 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.000.000,-
• Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan daya tampung 33 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.000.000,-
• Pendidikan Biologi, daya tampung 32 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.000.000,-
• Pendidikan Teknik dan Informatika Komputer, daya tampung 30 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.250.000,-
• Pendidikan Guru Sekolah Dasar, daya tampung 240 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.7500.000,-
• Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, daya tampung 30 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.000.000,-
• Magister Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia (S2), daya tampung 13 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 7.000.000,-
• Fakultas Ilmu Budaya
• Sastra Indonesia, daya tampung 28 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.000.000,-
• Sastra Inggris, daya tampung 37 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.250.000,-
• Sastra Jepang, daya tampung 42 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.250.000,-
• Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
• Teknik Arsitektur, daya tampung 90 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 7.250.000,-
• Teknik Sipil, daya tampung 270 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 7.500.000,-
• Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, daya tampung 60 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 7.250.000,-
• Teknik Ekonomi Konstruksi, daya tampung 185 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 7.250.000,-
• Teknologi Rekayasa Pengelolaan dan Pemeliharaan Bangunan Sipil, daya tampung 20 Mahasiswa. biaya kuliah semester I Rp. 7.250.000,-
• Magister Arsitektur (S2), daya tampung 36 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 7.500.000,-
• Magister Teknik Sipil (S2), daya tampung 13 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 8.500.000,-
• Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan’
• Budidaya Perairan, daya tampung 32 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.250.000,-
• Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, daya tampung 37 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.250.000,-
• Magister Sumberdaya Perairan, Pesisir dan Kelautan (S2), daya tampung 13 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 7.000.000,-
• Fakultas Teknologi Industri
• Teknik Elektro, daya tampung 61Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 7.250.000,-
• Teknik Mesin, daya tampung 76 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 7.250.000,-
• Teknik Industri, daya tampung 71 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 7.250.000,-
• Teknik Kimia, daya tampung 46 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 7.250.000,-
• Teknologi Rekayasa Komputer dan Jaringan, daya tampung 20 Mahasiswa, biaya kuliah semester I Rp. 6.750.000,-
• Teknologi Rekaya Energi Terbarukan, daya tampung 20 Mahasiswa
Semester I dan Semester II pembayaran uang kuliah sistim paket, sudah termasuk biaya PKKMB dan Biaya Pengembangan Institusi.
Semester III dan selanjutnya uang kuliah berdasarkan SKS dan biaya tetap (Pengembangan institusi),
Teori Rp. 200.000/SKS, Praktek Rp.300.000/SKS
Pengembangan institusi Rp. 1.250.000/Semester.
Informasi lengkap bisa di lihat laman www.bunghatta.ac.id dan www.spmb.bunghatta.ac.id
*Indrawadi
model cetak buat pdf untuk berita ini

10 Keteladanan Nasional Dari Bung Hatta

Rabu 11 Agustus 2021 - 14:46:00

FPIK UBH - Meutia Farida Hatta, putri pertama pasangan Bung Hatta dan Rachmi Rahim yang hadir pada acara webinar yang digelar Universitas Bung Hatta bekerjasama dengan Yayasan Proklamator Bung Hatta dan Pemprov.Sumatera Barat. Acara yang gelar secara online tersebut dalam rangka memperingati 119 tahun kelahiran Bung Hatta (12 Agustus 1902 -12 Agustus 2021) sekaligus memperingati HUT RI ke 76, Rabu, 11 Agustus 2021.

Dalam pemaparannya, Meutia memaparkan bahwa ada beberapa karakter dan prinsip Bung Hatta yang tepat dijadikan teladan bagi bangsa Indonesia, baik yang sedang menjalankan tugas-tugas negara maupun para pemuda yang sedang memupuk ilmu dan keahlian mereka agar kelak bisa menjalankan pekerjaan, tugas-tugas, dan jabatan mereka dengan penuh tanggung jawab.

Ke-10 Keteladanan Nasional Bung Hatta itu adalah :

Pertama, Bung Hatta memiliki prinsip yang tegas untuk membuat dirinya “sama kata dengan perbuatan”. Beliau tidak pernah mengubah niat atau janji yang sudah disampaikan. Bagi para pemimpin bangsa, menetapi janji kepada rakyat adalah suatu keharusan sebagai perilaku anggun dan mulia. Pemimpin wajib menghormati rakyat sebelum rakyat menghormati si pemimpin itu.

Kedua, Bung Hatta memuliakan rakyat. Bagi Bung Hatta, “tahta adalah untuk rakyat”.

Ketika sepulang Bung Hatta dari Negeri Belanda, Bung Hatta ditangkap dan dipenjara di Penjara Glodok, beliau sempat menulis buku berjudul Krisis Ekonomi dan Kapitalisme, bahwa beliau anti “persaingan bebas” (laisser-faire-stelsel), karena persaingan bebas ini akan memperbesar mana yang kuat dan menghancurkan mana yang lemah (ibid., hlm 78). Oleh karena itulah Bung Hatta bersikap apriori menolak kapitalisme dengan persaingan bebas bawaannya

Ketiga, Bung Hatta sangat menghormati kedaulatan rakyat. Bahkan istilah kedaulatan rakyat itu Bung Hatta-lah yang menciptakannya (tulisannya tanggal 10 November 1931). Semula istilah itu dikenal dengan istilah “Volkssouvereigniteit”.

Bung Hatta-lah yang memberi nama majalah perjuangan Daulat Ra’jat yang terbit dari tahun 1931 sampai 1934 saja. Penerbitan Daulat Ra’jat terhenti sewaktu Bung Hatta dibuang ke Boven Digoel.

Itulah sebabnya Bung Hatta disebut sebagai Bapak Kedaulatan Rakyat. Pada acara peringatan Satu Abad Bung Hatta diterbitkan buku yang ditulis oleh 65 orang tokoh Indonesia dengan judul Bung Hatta Bapak Kedaulatan Rakyat. Kemudian pandangan Bung Hatta pada tulisannya tanggal 10 November 1931 itu tersurat sebagai Pasal 1 ayat

(2) UUD 1945 yang menegaskan bahwa “Kedaulatan ada di tangan rakyat”.

Keempat, Bung Hatta dikenal sebagai arsitek Pasal 33 UUD 1945, yang menurut Bapak Des Alwi, draft corat-coret sketsa Pasal 33 itu sudah digagas Bung Hatta sejak beliau masih berada di pembuangan di Boven Digoel pada tahun 1934.

Dalam Pasal 33 UUD 1945 jelas sekali disebut pada ayat (2)nya: “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara”, dan pada Ayat (3)nya: “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dipergunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat.”

Dari kedua ayat itu jelas bahwa kepentingan rakyat banyak sangat diutamakan.

Jadi bagi Bung Hatta, hajat hidup orang banyak yang diartikan sebagai kebutuhan pokok rakyat, harus dikuasai oleh negara. Dengan demikian negaralah yang bertanggung jawab untuk menjamin tersedianya kebutuhan pokok rakyat itu.

Selanjutnya Bung Hatta juga menggarisbawahi apa yang tersurat di UUD 1945, yaitu bahwa ”hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada di tangan orang-seorang”. Ini merupakan suatu pernyataan yang anti kapitalisme.

Kelima, pada tanggal 3 Februari 1946, hanya enam bulan sesudah proklamasi kemerdekaan Indonesia, diadakan Konferensi Ekonomi pertama di Jogyakarta (namun tak pernah terdengar ada Konferensi Ekonomi kedua).

Ini penting untuk diketahui oleh para mahasiswa kita. Saya mendengar ceramah dari seorang ekonom senior yang paham tentang konsepsi demokrasi ekonomi-nya Bung Hatta, bahwa antara kita sendiri hendaknya tidak saling bersaingan. Tetapi kita boleh “saling berlomba”saja. Apa beda antara ”bersaing” dan ”berlomba”? Dalam “bersaing” yang lemah atau kalah disingkirkan.

Dalam ”berlomba” yang lemah atau kalah diberdayakan. Kita memang menganut sistem ekonomi kerjasama, bergotong royong saling memperkuat, saling memperkokoh, dan saling melengkapi. Jadi, di dalam negeri, persaingan bukanlah pilihan yang relevan untuk membangun kekuatan ekonomi.

Pada konferensi ekonomi itu, pidato Bung Hatta menekankan antara lain tentang pentingnya “meningkatkan produktivitas rakyat”. Untuk itu perlu diadakan pengaturan hak-hak atas tanah. Yang muncul terpenting adalah tentang tanah dan produktivitas rakyat di atas tanahnya itu.

Bung Hatta menegaskan bahwa “tanah tidak boleh menjadi barang perniagaan”. Artinya, Bung Hatta pasti tidak akan menyetujui adanya ide tentang Bank Tanah sebagaimana yang direncanakan saat ini.

Pada pidato beliau pada Konferensi Ekonomi itu ada pula ditegaskan, bahwa strategi pembangunan “perekonomian haruslah untuk “meningkatkan daya beli rakyat”.

Oleh Bung Hatta dikemukakan agar kita tidak “memutar ujung menjadi pangkal”, yang menjadikan Indonesia sebagai negara export economie. Artinya, kita tidak mengekspor bahan-bahan mentah semata-mata, tetapi harus lebih dahulu mengolahnya di dalam negeri sebagai barang jadi atau setengah jadi, sehingga memperluas pasaran dalam negeri dan membuka lapangan kerja.

Bung Hatta mengartikan bahwa dengan mengolah bahan mentah di dalam negeri, maka pasar dalam negeri akan berkembang, disertai dengan peningkatan “daya beli rakyat” seperti yang gtelah disebut di atas.

Keenam, pada tahun 1947, Bung Hatta menjadi Ketua dari Panitia Pemikir Siasat Ekonomi (yang ditetapkan sebagai embrio dari BAPPENAS sekarang). Hal ini merupakan kesempatan bagi Bung Hatta untuk memajukan ekonomi rakyat gagasan beliau. Saya mencatat, di situ Bung Hatta mengemukakan tentang perlunya para buruh atau pekerja ikut memiliki saham perusahaan. Saya perkirakan bahwa hal itu artinya Bung Hatta berkehendak untuk meredam kapitalisme.

Di sini jelas bahwa Pasal 33 UUD 1945 yang arsiteknya adalah Bung Hatta, berprinsip tidak anti besar, melainkan yang besar itu perlu dimiliki oleh orang banyak. Sikap Bung Hatta ini sarat dengan nilai-nilai kerakyatan.

Ketujuh, saya mencatat pula bhw ketika Bung Hatta menjabat sebagai Perdana Menteri jaman RIS, salah satu program utamanya adalah membangun ekonomi rakyat. Saat ini saya menyarankan agar para pemuda kita mencintai dan membeli produk-produk ekonomi rakyat, apakah itu kerajinan rakyat, industri rakyat, kopi rakyat, hasil laut rakyat, hasil tambak rakyat, kuliner rakyat, dst, dan jangan terpaku pada produk-produk impor, termasuk makanan-makanan asing.

Kedelapan, kita mengenal Bung Hatta yang mengartikan kemerdekaan Indonesia sebagai kemandirian dan keberdaulatan, juga di dalam ekonomi. Bung Hatta lebih mengutamakan kemandirian dalam arti tidak mau tergantung kepada kekuatan ekonomi asing.

Oleh karena itu Bung Hatta mengutamakan memupuk tabungan dalam negeri. Bahkan saya yakin Bung Hatta bisa memperoleh pinjaman dari luar negeri, namun beliau lebih memilih meminjam untuk membiayai belanja negara dengan meminjam kepada saudagar-saudagar kaya kita sendiri, antara lain dari Solo. Bung Hatta selalu berusaha untuk mandiri dan selalu bicara kemandirian yang dalam Bahasa Belanda, yang sering beliau katakana sebagai onafhangklijkheid.

Bung Hatta kemudian menganjurkan agar Menteri Keuangan Sjafruddin Prawiranegara ujtuk melakukan pinjaman dalam negeri dalam bentuk obiligasi dengan nama “Pinjaman Nasional” pada tahun 1950.

Kenapa Bung Hatta tidak menyukai ketergantungan kepada luar negeri? Karena hal itu bukan merupakan suatu kemuliaan. Kemandirian adalah suatu kemuliaan. Kemandirian adalah sikap mulia yang menyangkut perihal harga diri bangsa.

Kesembilan, di dalam pidato penganugerahan Doktor Honoris Causa di UGM, Jogyakarta pada tahun 1956, untuk pertama kalinya Bung Hatta menyebut perkataan “kebahagiaan rakyat”, agar Pemerintah menjaga “kebahagiaan” rakyat itu. Baru pada tahun 2000-an ini PBB mengemukakan pentingnya happiness bagi rakyat.

Kemudian PBB mengukur human happiness index (HDI). Disayangkan bahwa di situ tercatat bahrwa index Indonesia tergolong rendah dibandingkan dengan index negara tetangga kita. Indonesia pada tahun 2018 berada di urutan 116 dari 189 negara.

Australia di urutan 3, Singapura urutan 9, Brunei Darussalam urutan 39, Malaysia urutan 57. Kemudian dalam pidato penganugerahan Doctor Honoris Causa di UI pada tahun 1975, hal yang menarik adalah kalimat Bung Hatta yang mengatakan, “Kita adalah negara hukum, oleh karena itu harus mentaati hukum,”. Yang dimaksudkan oleh Bung Hatta adalah ketertiban dalam Anggaran Belanja Negara, dan tidak boleh ada apa yang disebut Anggaran Non Budgetaire.

Kesepuluh, terakhir, Bung Hatta menolak demokrasi Barat yang berdasar “liberalisme” ”individualisme”. Bung Hatta menegaskan konsepnya mengenai “Demokrasi Ekonomi”, yang banyak ekonom kita mengabaikannya. Intinya demokrasi ekonomi adalah kemakmuran rakyatlah yang utama bukan kemakmuran orang-seorang”, “kemakmuran bagi semua orang, sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara ddan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

Kalau tidak, tampuk produksi jatuh ke tangan orang seorang yang berkuasa dan rakyat yang banyak tertindasinya. Artinya Bung Hatta selalu mengutamakan kebersamaannasional.

Pemikiran kerakyatan Bung Hatta masa lalu itu, ketika pada saat ini muncul dalam buku-buku teks ekonomi pembangunan kontemporer, disebut sebagai strategi “putting people first”, artinya menempatkan peran dan kepentingan rakyat sebagai yang harus diutamakan.

Kemudian kita mengenal strategi “people centered”, artinya strategi yang mengutamakan kepentingam rakyat, dan strategi “people based” yang berdasarkan atas kemampuan (capability) rakyat. Dengan kata lain, teknologi yang digunakan adalah teknologi tepat guna (apropriate technology), artinya yang sesuai dengan kemampuan rakyat.

Keteladanan Bung Hatta akan bermanfaat bila orang melakukannya dengan jujur, karena berprinsip mensejahterakan rakyat dan memuliakan rakyat Indonesia. Demikianlah keteladanan untuk dijalankan oleh mereka yang mempunyai tanggungjawab mengelola negara.

Sementara itu para mahasiswa yang sedang mengonsentrasikan dirinya untuk memupuk ilmu dan keahlian yang akan menjadi tugasnya di masa depan, keteladanan Bung Hatta akan ikut membangun karakter mereka untuk menjadi pelaku-pelaku pembangunan yang handal, teguh prinsip menjaga kebenaran, kejujuran, dan keadilan sosial, demi kepentingan rakyat Indonesia.

sumber: https://blog.bunghatta.ac.id/index.php/43-meutia-farida-hatta-swasono-10-keteladanan-nasional-dari-bung-hatta
model cetak buat pdf untuk berita ini

119 Tahun Bung Hatta: Sandiaga Uno dan Erick Thohir Akan Hadir Sebagai Keynote Speaker di UBH.

Jumat 06 Agustus 2021 - 17:30:47

FPIK UBH - Universitas Bung Hatta bekerjasama dengan Pemerintah Propinsi Sumatera Barat dan dengan Yayasan Proklamator Bung Hatta, akan menggelar webinar dengan tema “Membangun Keteladanan Bung Hatta”, kegiatan yang akan digelar secara online tersebut dengan aplikasi zoom meeting akan menghadirkan Keynote Speaker antara lain Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Menteri BUMN Erick Thohir dan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi.

Panitia pelaksana Iman Satria,menyebutkan acara tersebut digelar dalam rangka menanamkan karakter dan nilai baik Bung Hatta kepada generasi muda dan masyarakat,sekaligus memperingati 119 tahun kelahiran Bung Hatta yang jatuh pada tanggal 12 Agustus. Acara ini digelar selain membumingkan nama tokoh Proklamator Bung Hatta juga sekaligus memperingati HUT RI ke 76”, ujar Iman.

Disebutkan Iman,selain ketiga Keynote Speaker tersebut, panitia juga akan menghadirkan speaker antara lain putri Bung Hatta Prof.Dr.Meutia Hatta, Rektor Universitas Bung Hatta Prof.Dr. Tafdil Husni,SE.,MBA,Rektor Universitas Andalas Prof.Dr.Yuliandri,SH.,MH, Rektor Universitas Negeri Padang Prof.Ganefri,M.Pd.,Ph.D. Akan hadir juga Dosen Universtas Indonesia/Komisaris Bank Mandiri Andrianof Chaniago dan Prof.Dr.Mainizar Rahman, Ketum YPBH/mantan ketua Gubernur OPEC, dengan moderator Wakil Rektor III UBH Dr.Ir.Hidayat,.ST.,IPM.

“Acara ini akan digelar pada hari Rabu, 11 Agustus 2021,mulai pada pukul 13.00 WIB dan terbuka untuk umum, silahkan mendaftar melalui tautan https://s.id/regBungHatta119” ujar Iman, yang juga dosen FTI-UBH.

Membumikan pemikiran-pemikiran Bung Hatta kepada generasi muda sebagai pelanjut tongkat estafet pembangunan bangsa, menjelaskan, tindakan, pemikiran dan komitmen-komitmen kebangsaan Bung Hatta harus terus menerus dijelaskan dan disosialisasikan kepada generasi sekarang, untuk mewujudkan masa depan yang berkemajuan dan beradab.

Bung Hatta sudah memberikan berbagai contoh tauladan mulai dari sikap sederhana dan hemat sampai kepada sikap kecintaannya kepada Tanah Air, ini perlu disosialisasikan tanpa henti, jelas Iman mengakhiri. *Indrawadi
model cetak buat pdf untuk berita ini
Halaman       >>  
Fasilitas Pencarian
Belum ada agenda bulan ini.

SSRKJSM


12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930


Translate This Page
Copyright (c) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta
Dibangun oleh Tim Swakelola PTSS 2009 Univ. Bung Hatta bersama CV. Djamboe WebDesign