Link

Online

Pengunjung: 5, Anggota: 0...
paling banyak online: 113
(anggota: 0, pengunjung: 113) pada 05 Mei : 03:32
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom

Polemik Lobster

lobster biasanya menyenangi daerah terumbu karang, bersembunyi di dalam lubang atau di balik batu-batu karang (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Diving Air Tawar Batang Tabik Payakumbuh

Komunitas selam dari Unit Selam Diving Proklamator Universitas Bung Hatta melakukan penyelaman dengan peralatan scuba diving di pemandian alami Batang Tabik Payakumbuh (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Dekan FPIK Arlius, PhD Narasumber Pembahas Evaluasi Riset LRSDKP Tahun 2020

Dekan FPIK Arlius, PhD Narasumber Pembahas Evaluasi Riset LRSDKP Bungus Tahun 2020 (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

FPIK-UBH Tanda Tangani MoU dengan LRSDKP Bungus

Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisisr (LRSDKP)Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta, 16/11-20 (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Potensi Lobster di Laut Indonesiabaru

Sabtu 28 November 2020 - 13:57:09

gambar: udanglobster FPIK UBH - Di kutib dari laman http://lipi.go.id/berita/potensi-lobster-di-laut-indonesia/22258, Pakar crustacea Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rianta Pratiwi, menjelaskan bahwa lobster tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia dan hidup di perairan dangkal hingga kedalaman 100 - 200 meter di bawah permukaan laut dengan kisaran suhu 20-30°C.

Disebutkan Rianta, lobster biasanya menyenangi daerah terumbu karang, bersembunyi di dalam lubang atau di balik batu-batu karang yang airnya dangkal di daerah tropis ataupun semi tropis,” jelas Rianta. “Meskipun memiliki morfologi yang sama, tetapi habitatnya berbeda-beda tergantung jenisnya,” sebut Rianta

Rianta menjelaskan, siklus hidupnya, lobster (Panulirus spp.) melewati 4 fase, yaitu fase reproduksi/perkembangbiakan, fase larva filosoma, fase lobster muda (puerulus), dan fase lobster dewasa. Pada fase perkembangbiakan, lobster betina dapat bertelur hingga 460.000 butir dengan masa inkubasi 3-4 minggu.

Pada fase filosoma, lobster dapat mencapai ukuran 36.5 – 37.2 mm. Setelah itu, ukuran lobster akan berkembang hingga 5-10 cm pada fase lobster muda. Selanjutnya pada fase lobster dewasa, dewasa betina berukuran 16 cm panjang total, sementara lobster jantan berukuran kurang lebih 20cm panjang total.

Lobster atau yang lebih dikenal dengan ‘udang karang atau udang barong’ memiliki nilai ekonomi dan konsumsi yang tinggi sebab dagingnya yang gurih, halus, lezat dan kaya akan protein. Rianta menyebut lobster bukan hanya komersial di Indonesia namun juga hampir di seluruh dunia. “Lobster merupakan jenis yang komersial di sepanjang pantai utara dan selatan Amerika, Afrika Mediteranean, India, Australia, Selandia Baru, dan perairan Indo-Pasifik, termasuk perairan Indonesia,” ujarnya.

Menurut Rianta, saat ini Indonesia mempunyai tujuh jenis lobster, yaitu lobster pasir (Panulirus homarus), lobster batik (Panulirus longipes), Lobster batu (Panulirus penicillatus), lobster Pakistan (Panulirus polyphagus), lobster Mutiara (Panulirus ornatus), lobster Bambu (Panulirus versicolor), dan Lobster Batik (Panulirus femoristriga). “Lobster mutiara dan lobster pasir menjadi lobster yang paling potensial untuk dikembangkan melalui sistem budidaya perikanan yang ada di Indonesia,” terangnya menambahkan.

Rianta pun memaparkan potensi benih lobster alam di laut Indonesia sangat besar dan diperkirakan mencapai 20 milyar ekor per tahun. “Faktor alam yang mencakup dinamika oseanografi dan klimatologi sangat memengaruhi keberadaan dan stok benih lobster alam di laut Indonesia,” katanya. Di samping itu, kualitas lingkungan perairan laut dan aktivitas penangkapan juga ikut andil memberikan pengaruh terhadap keberadaan stok benih lobster di alam. “Namun hingga saat ini hampir belum ada informasi yang memadai terkait faktor mana yang paling menentukan keberadaan dan stok benih lobster di alam,” tambahnya.

Pengembangan budidaya lobster sendiri telah dilakukan Indonesia sejak lama dan telah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12/PERMEN-KP/2020 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) di Wilayah Negara Republik Indonesia. “Sebenarnya pengembangan budi daya lobster sudah dilakukan Indonesia sejak lama, akan tetapi memerlukan waktu pembesaran yang sangat lama, sehingga banyak yang tidak berhasil melakukannya,” ungkap Rianta. Di perairan tropis misalnya, P. ornatus memiliki fase larva 4-7 bulan, sementara P. longipes sekitar lima bulan dengan ukuran benih bening/benur 5-7cm.

Rianta lalu merinci beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam melakukan budidaya yang juga harus disesuaikan dengan kondisi di alam. Hal-hal yang harus diperhatikan tersebut adalah suhu perairan sekitar 25- 26°C; salinitas 30-35 ppt; substrat dasar adalah pasir atau pasir berlumpur tanpa karang dan cangkang tiram, perairan harus bebas dari pengaruh air tawar dan dari aliran lain yang berasal dari kegiatan di darat, pabrik, pertanian dan permukinan; dekat dengan sumber benih dan sumber pakan; mudah dijangkau dengan transportasi. “Selain itu, juga harus terlindung dari angin kencang dan ombak besar, tetapi aliran pasang surut di bagian atas dan bawah kolom air masih cukup kuat. Kedalaman air terendah adalah 1,5 m pada saat surut,” jelasnya.

Rianta menekankan, pengembangan lobster harus dilaksanakan dalam tata kelola perikanan dengan menjunjung tinggi prinsip tanggung jawab dan berkelanjutan. “Syarat-syarat tersebut penting diterapkan, karena bisa mendukung kelestarian ekosistem perairan laut yang menjadi habitat benih lobster,” pungkasnya. (sumber : Humas LIPI/iz/ ed: drs)
model cetak buat pdf untuk berita ini

Career Workshop Strategi Menangkan Peluang Berkarir dan Berwirausaha di Zaman 4.0 baru

Kamis 26 November 2020 - 13:27:43

gambar: career FPIK UBH - Dalam rangka mempersiapkan lulusan Universitas Bung Hatta yang berdaya saing dan kompetitif, maka Career Development Center Universitas Bung Hatta menyelenggarakan Career Workshop Strategi Menangkan Peluang Berkarir dan Berwirausaha di Zaman 4.0 bagi calon wisudawan Akademik ke-74 yang akan diadakan pada :
Hari/Tanggal : Kamis/3 Desember 2020
Pukul : 08.00 - 11.00 WIB
Tempat : Aplikasi Zoom Meeting
Narasumber : Coach SYAHREZA, S.T., M.M., C.CC, C.PS, CHCP, CHRM

PENDAFTARAN KLIK : https://pusatkarir.info/ubh/

(*IM)
model cetak buat pdf untuk berita ini

Mengenal Benur Lobster

Rabu 25 November 2020 - 17:23:32

gambar: lobster FPIK UBH - Kata ”benur lobster” akan semakin makin popular beberapa minggu ke depan, terkaitnya ramainya pemberitaan tentang kata “Lobster”ini

Apa itu benur lobster ?

Berdasarkan KBBI, benur memiliki dua makna. Pertama yaitu benih udang yang hampir tidak kasatmata. Kedua, anak udang windu. Dalam hal ini, maka benur adalah anakan lobster yang tidak kasat mata.

Dikutib dari laman : https://kkp.go.id/an-component/media/upload-gambar-pendukung/DJPT/2020/Kepdirjen%20PT%2048%202020%20ttg%20Juknis%20BBL.pdf

Tentang petunjuk teknis pemanfaatan benih lobster ini tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor 48/Kep-Djpt/2020 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Benih Bening Lobster (Paulirus spp.) dari Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.).

Ada beberapa dokumen yang harus dilengkapi, untuk dapat melakukan penangkapan benih lobster. Dokumen tersebut di antaranya Surat Pendaftaran Nelayan Calon Penangkap Benih Bening Lobster (Puerulus), Surat Rekomendasi Nelayan Calon Penangkap Benih Bening Lobster (Puerulus), Surat Permohonan Kuota Kelompok Penangkapan Benih Bening Lobster (Puerulus), dan Surat Permohonan Penetapan Nelayan Penangkap dan Lokasi Penangkapan Benih Bening Lobster.

Di petunjuk teknis itu juga terdapat Surat Pernyataan Pelaku Usaha Calon Eksportir Benih Bening Lobster (Puerulus), Jumlah kebutuhan Benih Bening Lobster (Puerulus) untuk budidaya dan ekspor, serta kebutuhan pakan budidaya lobster, dan sebagainya.

Petunjuk teknis juga meliputi penetapan kuota penangkapan benih bening lobster, pendaftaran eksportir dan waktu pengeluaran benih bening, penetapan nelayan penangkap dan lokasi penangkapan benih bening lobster, pelaporan dan pendataan hasil tangkapan benih bening, penerbitan surat keterangan asal benih (SKAB) bening lobster (Puerulus), dan penetapan harga patokan terendah benih bening lobster (Puerulus) di tingkat nelayan.

Adapun potensi dan jumlah benih lobster yang boleh ditangkap dan diekspor ditetapkan oleh Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan (Komnas Kajiskan) yang beranggotakan para ahli.(IM)
model cetak buat pdf untuk berita ini

Punya 40 Titik Kerangka Kapal Perang Bersejarah, KKP Lirik Peluang Beasiswa Bagi Putra Daerah

Rabu 25 November 2020 - 06:17:49

FPIK UBH - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyadari posisi strategis perairan Indonesia yang menyebabkan ramainya pelayaran, perlintasan dan labuh kapal asing, termasuk kapal perang. Terdapat sekitar 40 titik kerangka kapal perang asing dari era Perang Dunia II (PD II) yang teridentifikasi berada di perairan teritorial Indonesia.

Bekerja sama dengan The University of Sydney, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) menyelenggarakan workshop “Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Kerangka Kapal Perang Bersejarah” secara daring pada 16-26 November 2020.

lengkapnya klik : https://kkp.go.id/djprl/artikel/25071-punya-40-titik-kerangka-kapal-perang-bersejarah-kkp-lirik-peluang-beasiswa-bagi-putra-daerah
model cetak buat pdf untuk berita ini
Halaman       >>  
Fasilitas Pencarian
Belum ada agenda bulan ini.

SSRKJSM






1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30





Translate This Page
Copyright (c) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta
Dibangun oleh Tim Swakelola PTSS 2009 Univ. Bung Hatta bersama CV. Djamboe WebDesign