Link

Online

Pengunjung: 10, Anggota: 0...
paling banyak online: 61
(anggota: 0, pengunjung: 61) pada 06 Jun : 16:23
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom

PKM Prodi PSP di UPTD Sentra Pengolahan Ikan Teri Pasia Nan Tigo

Penyuluhan tentang Proses Sertifikat HACCP Produk Ikan Teri (Y.E/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Ikan Bilih, Kembalilah anak yang hilang

Selasa 30 Juli 2019 - 01:54:32

gambar: hs1 Singkarak, FPIK UBH - TIDAK ada masyarakat Sumatera Barat, bahkan masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Ke Mauroke yang tidak pernah mendengar atau merasakan enak dan gurihnya ikan bilih yang berasal dari Danau Singkarak. Setiap rumah makan Padang sejak dahulu kala selalu menghidangkan lauk pauk yang berasal dari ikan bilih, kini hanya tinggal kenangan. Dahulu ketika ikan bilih yang hidup sebagai endemik di danau Singkarak diberi nama oleh seorang ahli perikanan Saanin dengan nama ʺIkan Bakoʺ. Konon kabarnya menurut dia orang minang punya bako. Ikan ini ditangkap oleh nelayan dengan alat tangkap alahan, jala, dan pukat dengan mengutamakan kearifan lokal sehingga populasinya sangat melimpah dikala itu. Saya masih ingat ketika tahun 1993 memulai penelitian disertasi saya tentang ikan bilih, saya bersama mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta melihat betapa ramainya masyarakat di muara sungai sumpur, baing, paninggahan, muara pingai dan saningbaka bergiliran saling datang dan pergi selama dua puluh empat jam menangkap ikan bilih, saya pun ikut berbaur dan bercengkrama dengan nelayan dimalan harinya menangkap ikan bilih dengan hanya menggunakan lampu togok dan senter. Ukuran ikan bilih yang tertangkap pada waktu itu rata-rata panjangnya mencapai 15 cm, bahkan ada yang tertangkap sampai ukuran 18 cm. Setiap nelayan yang melakukan penangkapan memakai alat tangkap jala di muara sungai tidak kurang dari sepuluh liter hasil yang diperolehnya selama dua sampai tiga jam menangkap ikan bilih. Begitu pula dengan hasil tangkapan alahan dan lukah yang dipasang di badan air sungai yang jaraknya sekitar 25-40 meter dari muara sungai bisa mendapatkan hasil 20-30 liter bahkan bisa lebih setiap pagi hari ketika panen hasil dilakukan. Ketika itu pendapatan nelayan ikan bilih sangat tinggi dan kehidupan keluarganya cukup sejahtera. Saya masih ingat ada seorang nelayan ikan bilih bisa melanjutnya kuliah anaknya di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada waktu itu.

Kini apa yang terjadi, ikan bilih jarang ditemukan dan tertangkap oleh nelayan, meskipun alat yang digunakan bagan menggunakan mata jaring kecil dan jaring insang (baca jaring langli) dengan mata jaring 5/8 inci. Kalaupun ada ikan bilih yang tertangkap ukuran tidak lebih dari lima sampai enam sentimeter. Kini muara sungai sumpur, baing, paningggahan, pingai dan Saningbaka sudah sepi, tidak adalagi nelayan yang menangkap ikan bilih, kalaupun ada hanya satu dan dua orang saja yang bisa bertahan yang hasilnya paling banyak satu tekong susu. Bukan berarti masyarakat nelayan ikan bilih ada pekerjaan lain yang lebih menguntungkan, susungguhnya tidak seperti itu, tapi mereka tidak lagi mendapatkan hasil tangkapan ikan bilih. Kemana ikan bilih menghilang, ada sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa ikan bilih hanyut dibawa oleh arus air melalui terowongan PLTA di Malalo menuju ke Asam Pulau di Wilayah Padang Pariaman, ada juga yang mengatakan bahwa ikan nila sudah sangat banyak di danau Singkarak yang lepas dari keramba jaring apung atau sengaja ditebar karena ketidak tahuan mereka bahwa ikan nila itu adalah bersifat invasif yang bisa memakan telur dan anak ikan bilih sehingga jumlah ikan bilih semakin berkurang. Namun pendapat ini secara ilmiah perlu kita buktikan.

Apa yang kita dapati hari ini bahwa ikan bilih jumlahnya sangat berkurang dan terancam punah dan menghilang di danau Singkarak adalah akibat ulah kita bersama. Pada masa enam sampai sepuluh tahun yang lalu masyarakat nelayan menangkap ikan bilih dengan alat yang tidak ramah lingkungan diantaranya adalah alat tangkap bagan yang jumlahnya pada tahun 2016 tidak kurang dari 512 unit dan jaring langli dengan jumlah 854 unit pada tahun 2001. Yang tidak memperbolehkan operasi alat tangkap bagan dan jaring langli hanya masyarakat nelayan nagari Sumpur dari tiga belas nagari yang ada di selingkar danau Singkarak. Dengan alat tangkap bagan dan jaring langli ikan bilih tidak bisa mencapai ukuran yang produktif untuk bisa bertelur dan memijah ke muara-muara sungai yang ada arus air seperti perilaku ikan salmon di belahan dunia sana. Kondisi yang terjadi pada masa lampau dan saat ini adalah jumlah ikan bilih yang ditangkap lebih banyak daripada ikan yang bisa bertelur dan anaknya tidak bisa tumbuh menjadi dewasa untuk dapat berkembangbiak. Jika keadaan ini dibiarkan secara terus menerus tanpa ada upaya kita untuk melakukan sesuatu untuk menyelamatkan ikan bilih, tentu kita akan kehilangan jenis ikan bilih yang kita banggakan di ranah minang ini Perlu kita sadari, bahwa sesungguhnya pengelolaan sumberdaya ikan bukanlah mengatur sumberdaya ikan semata, namun yang lebih penting adalah bagaimana mengantisipasi perilaku nelayan sehingga sejalan dengan kebijakan yang diterapkan.

Kita patut memberikan dukungan dan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera yang sangat peduli dengan keberlanjutan ikan bilih untuk masa yang akan datang yaitu dengan mengeluarkan Peraturan Gubernur Nomor No.81/2017 Tentang Penggunaan Alat dan Bahan Penangkapan Ikan di Perairan Danau Singkarak. Kita juga memberikan apresiasi kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Povinsi Sumatera Barat dan jajaran terkait termasuk aparat penegak hukum dan masyarakat setempat yang telah turun tangan secara bersama-sama mengimplementasikan Peraturan Gubenur di atas untuk melarang beroperasinya alat tangkap bagan yang belakangan ini sangat merisaukan kita. Tidak bisa dimungkiri ketika bagan dan jaring langli dioperasikan dengan mata jaring kecil, tentu akan tertangkap ikan bilih yang berukuran kecil, termasuk jenis ikan lain yang belum bernilai ekonomis untuk dipasarkan. Kita punya harapan dengan adanya penertiban alat tangkap ikan bilih, jumlah ikan bilih akan kembali meningkat yang pada gilirannya akan dapat mengangkat perekonomian masyarakat nelayan sekitar danau Singkarak.

Mari kita sadari secara bersama bahwa ikan bilih yang diberi nama ilmiah oleh Bleeker seorang ahli perikanan Belanda pada tahun 1916 dengan Mystacoleucus padangensis hanya ada satu species di dunia yang habitatnya di danau Singakarak. Meskipun pada tahun 2001 ikan bilih danau Singakarak pernah ditebarkan ke Danau Toba dengan jumlahnya pada waktu sekitar 5000 ekor, ternyata bisa tumbuh dan berkembangbiak sehingga dapat mengangkat perekomian masyarakat nelayan di danau yang luasnya sepuluh kali luas danau Singkarak, termasuk nelayan pengolah di Kawasan danau Singkarak, karena masyarakat di utara sana tidak bisa melacik ikan bilih. Namun belakangan ini kita dapat informasi bahwa ikan bilih di danau Toba sudah menghilang akibat ditangkap dengan alat tangkap bagan. Dua tahun terakhir ini PT. Semen Indonesia-Indarung dalam program unggulannya bekerjasama dengan Universitas Bung Hatta juga sudah berbuat untuk menyelamatkan ikan bilih dengan cara menebar ikan bilih pada sungai yang ada di komplek Semen Indarung, hasilnya ikan bilih bisa tumbuh dan berkembang. Ketika ikan bilih hilang, secara ekologi tentu akan berdampak kepada lingkungan perairan danau Singkarak yang secara tidak langsung mungkin saja akan berdampak kepada masyarakat tempatan dikemudian hari. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ketika anak ikan bilih tidak kembali. Oleh karena itu mari kita selamatkan ikan bilih dari kepunahan demi untuk anak cucu kita dikemudian hari. (Ditulis oleh Prof. Dr. Ir. Hafrijal Syandri, M.S.) Sumber: Harian Singgalang 30 Juli 2019 (https://e-paper.hariansinggalang.co.id/)
model cetak buat pdf untuk berita ini

ALUMNI FAKULTAS PERIKANAN UNIVERSITAS BUNG HATTA PENGGERAK DALAM BIDANG AGRIBISNIS PERIKANAN TANGKAP DI SUMATERA BARAT

Senin 29 Juli 2019 - 04:31:12

gambar: hendra_yama_putra Padang, FPIK UBH - Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, bak pepatah mengatakan bahwa air cucuran atap jatuhnya kepelambahan juga, pepatah ini benar adanya, baik dari sikap dan perilaku dari seorang anak, hampir mirip sikap perilaku yang diturunkan sang bapak kepada anaknya, menurut pakar perilaku (Holdan, 2017). Pada umunya para investor ragu untuk berinvestasi di bisnis sektor perikanan tangkap, karena besarnya resiko yang dihadapi. Namun bagi para alumni universitas Bung Hatta khususnya alumni Fakultas Perikanan hal ini menjadi tantangan yang menggelitik naluri maritimnya untuk mengarungi Samudera Hindia untuk mengadu nasib di sektor ini. Menurut doni alumni 1998, dan Hendra Yama Putra anggota dewan dua periode di Pasaman Barat alumni 1997. Gambaran ini menunjukkan bahwa, yang mampu mengelola samudera Hindia sebagai lahan untuk bisnis perikanan tangkap hanya mampu dilakukan oleh anak-anak nelayan, karena gelora laut dengan gelombang yang laut yang tinggi hanya mampu ditaklukan oleh mereka.

Sedikit sekali para pebisnis perikanan tangkap berasal dari luar yang latar belakang orang tuanya bukan nelayan. Baik doni dan hendra yama putra orang tua mereka berasal dari nelayan bagan, oleh karena kebijakan kementerian kelautan dan perikanan bahwa bagan dilarang dioperasikan, disebabkan termasuk alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Maka bisnis ini diambil alih oleh anak-anak mereka yang telah jadi sarjana perikanan. Berkat teknologi informasi, mereka pelajari alat tangkap yang teknologinya lebih baik dari alat tangkap bagan yaitu: alat tangkap purse seine (pukat cincin). Pukat cincin pertama sekali diperkenalkan oleh nelayan dari Sibolga Sumatera Utara, yang singgah ke Air Bangis untuk mengisi bahan bakar dan ransum. Oleh karena sering singgah maka terjadi pertukaran informasi tentang alat ini. Pertama sekali pukat cincin berkembang di Sumatera Barat di Air Bangis dengan nama kapal Gurita 01 – 08. Namun bisnis ini kandas ditengah jalan disebabkan oleh pecah kongsi dan terbatasnya infra struktur dan fasilitas di pelabuhan seperti: Es, Transportasi, BBM, dan Cold Storage. Pada saat ini di Kecamatan sasak Ranah Pasisie Pasaman Barat bisnis perikanan tangkap dengan alat tangkap purse seine (pukat cicncin) berkembang pada saat ini sebanyak 22 unit. Satu unit pukat cicncin menelan investasi berkisar 1.5 – 2 Mliyar. Kedua alumni ini (Doni dan Hendra) mereka memiliki 7 dan 3 unit alat tangkap pukat cicncin tersebut. Bisnis perikanan tangkap ini merupakan bisnis keluarga sehingga mereka saling menjaga dan memilihara silahturahmi agar bisnis ini dapat berjalan dengan baik. Hal ini terlihat awalnya doni hanya memiliki 1 satu unit pukat cincin yang dibeli secara bekas dari nelayan sibolga dan saat ini telah berkembang menjadi 7 unit…luar biasa. Mengapa hal ini berkembang karena dalam bisnis mereka telah menerapkan system management Menurut Hamdi (2012) 6 M dalam operasi penangkapan (Men, Money, Methode, Material, Machine, and Market). Pasar hasil tangkapan mereka telah ada pembelinya baik dari lokal, antar propinsi, dan ke pasar luar Negara seperti : Malaysia dan Singapura. Menurut penulis jika jumlah alat tangkap terus bertambah kemungkinan untuk dikembangkan kearah industry perikanan, terbuka lebar untuk wilayah Pasaman Barat. Seperti industry pengalengan ikan, dan pengolahan hasil perikanan. Oleh karena itu jika ingin menjadi pengusaha perikanan tangkap belajarlah ke Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta agar dapat seperti Doni dan Hendra Yama Putra. Jayalah Maritim Indonesia, Jayalah Nelayan Indonesia, Jagalah laut kita, Negeri kaya rakyat sejahtera…amin. (Dr. Ir. Junaidi, M.Si)
model cetak buat pdf untuk berita ini

PKM Prodi PSP di Sentral Produksi Ikan Teri Pasia Nantigo

Sabtu 27 Juli 2019 - 07:53:03

gambar: penyuluhan_tentang_haccp Padang, FPIK UBH - Tahun Anggaran 2019, dua Tim PKM di Prodi PSP Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta dapat dana Hibah PKM dari Kementrian Riset dan Teknologi. Satu Tim melaksanakan pengabdian di Kawasan Mandeh yang dipimpin oleh Dr. Suparno. Satu Tim lagi dipimpin oleh Dr. Yusra yang melakukan Pemberdayaan Pengolah Ikan Teri di Pasia Nantigo Kecamatan Koto Tangah.

Dr. Yusra dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan yang dilaksanakan di Sentral Produksi Ikan Teri Pasia Nantigo tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas hasil olahan ikan teri yang di produksi oleh masyarakat. Kegiatan dilaksanakan selama satu bulan, dimulai tanggal 27 Juli 2019. Materi pertama yang disikusikan adalah "Penerapan Manajemen Mutu Terpadu "HACCP" yang disampaikan oleh Ir. Yempita Efendi, MS. Menurut Yempita langkah-langkah yang harus diperbaiki oleh pengolah Teri mulai dari Handling ikan teri di kapal, penerimaan bahan baku di Sentral, Cara pencucian ikan yang higyenis, perebusan, pengeringan sampai ke pengepakan. Yempita menambahkan bahwa harus ada niat dari pengolah ikan teri untuk memperbaiki mutu. Produksi harus direncanakan dengan baik, hasil produksi direncanakan di pasarkan untuk segmen pasar dalam negeri atau luar negeri.Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh pengolah ikan teri jika ingin memasarkan produknya dengan baik, harus ada Sertifikat Manajemen Mutu Terpadu / HACCP.

Anggota Tim yang lain, Ainul Mardiah, M.Sc menambahkan, yang perlu diperbaiki proses pembuatan ikan teri di Sentral Produksi Teri ini adalah tata cara pencucian, tata cara perebusan dan pengemasan. (Y.E)
model cetak buat pdf untuk berita ini

LIPI dan Enam Universitas Kawal Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang

Kamis 04 April 2019 - 04:25:27

FPIK, FPIK UBH - Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama dengan enam universitas di Indonesia menandatangani nota kesepakatan Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP) – Coral Triangle Initiative (CTI) 2019 pada Senin (11/3) kemarin. Keenam universitas tersebut adalah Universitas Sam Ratulangi, Universitas Hasanudin, Universitas Diponegoro, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Universitas Mataram, dan Universitas Bung Hatta.
Menurut Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dirhamsyah, kegiatan monitoring dan riset dari COREMAP-CTI merupakan wahana untuk menggali informasi tentang kondisi ekosistem pesisir. “Kegiatan monitoring dan riset ini adalah kegiatan utama dalam penguatan kelembagaan pemantauan ekosistem pesisir. Informasi yang dihasilkan dari kegiatan monitoring dilakukan dengan metode ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan,” jelas Dirhamsyah.

Lebih lanjut Dirhamsyah menerangkan, COREMAP-CTI mempersiapkan kelembagaan daerah agar mampu merehablitasi dan mengelola terumbu karangnya secara mandiri, termasuk kegiatan monitoring kesehatan terumbu karang dan ekosistem terkait lainnya. “LIPI lewat Pusat Penelitian Oseanografi telah membangun simpul COREMAP CTI di beberapa daerah dengan harapan adanya keberlanjutan pelaksanaan monitoring setelah kegiatan fase III ini selesai,” tuturnya.

Executive Secretary COREMAP, Deny Sutisna mengatakan, ini adalah program nasional untuk upaya rehablitasi, konservasi dan pengelolaan ekosistem terumbu karang dan ekosistem terkait secara bekelanjutan. “Program COREMAP dirancang dalam tiga fase seri waktu terdiri dari COREMAP fase I dinisiasi tahun 1998-2004, fase II yang merupakan fase akselerasi dilakukan tahun 2005-2011 dan COREMAP Fase III berupa penguatan kelembagaan dijalankan pada tahun 2014-2022,” terangnya.
Sebagai informasi, COREMAP-CTI bertujuan melembagakan pendekatan yang telah dibentuk pada fase sebelumnya agar dampak kegiatan berlangsung secara berkelanjutan dalam jangka panjang. “COREMAP fase ini merupakan kegiatan kolaborasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai Executing Agency dan LIPI sebagai National Project Implementation Unit),” tutup Deny. (mfn/ed: drs)http://lipi.go.id/berita/lipi-dan-enam-universitas-kawal-rehabilitasi-dan-pengelolaan-terumbu-karang/21567
model cetak buat pdf untuk berita ini
Halaman       >>  
Fasilitas Pencarian
Belum ada agenda bulan ini.

SSRKJSM



1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
Translate This Page
Copyright (c) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta
Dibangun oleh Tim Swakelola PTSS 2009 Univ. Bung Hatta bersama CV. Djamboe WebDesign