Link

Online

Pengunjung: 2, Anggota: 0...
paling banyak online: 61
(anggota: 0, pengunjung: 61) pada 06 Jun : 16:23
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom

FPIK Kembali Berduka

Drs. Dahnil Aswad, M. Si., Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Tutup Usia (1964-2019) (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

2 Orang Dosen Mengikuti Pelatihan Dan Uji Kompetensi Penilaian Kondisi Padang Lamun di Bintan

2 Orang Dosen Mengikuti Pelatihan Dan Uji Kompetensi Penilaian Kondisi Padang Lamun yang diselenggarakan oleh P2O LIPI pada 5-14 April 2019 (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

5 Mantan Dekan FPIK Menerima Piagam Penghargaan

Rektor Universitas Bung Hatta menyerahkan Piagam Penghargaan kepada lima orang Mantan Dekan FPIK (Humas/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Tiga Orang Dosen Universitas Bung Hatta Ikuti Seminar Hasil Pengabdian kepada Masyarakat Mono Tahun 2018 di Medan

Kamis 29 November 2018 - 08:23:31

FPIK, FPIK UBH - Bunghatta.ac.id. Tiga orang dosen Universitas Bung Hatta mengikuti seminar hasil Pengabdian kepada Masyarakat Mono Tahun 2018 di Medan. Ketiga orang dosen tersebut antara lain Dr. Suparno, M. Si., Ir. Haryani, M.T., dan Rio Rinaldi, S. Pd., M. Pd.

Kegiatan yang berlangsung di Le Polonia Hotel sejak tanggal 28 hingga 29 November 2018 itu diikuti oleh 167 peserta yang berasal dari berbagai wilayah, seperti Sumbar, Sumut, Riau, Kepri, dan Aceh.
model cetak buat pdf untuk berita ini

Pagar Laut dan Daya Pikat Ikan

Selasa 27 November 2018 - 08:19:00

FPIK, FPIK UBH - Bunghatta.ac.id. Hari yang penuh berkah Jumat (23/11/2018) kembali Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, khususnya Jurusan PSP (Akreditasi A) Universitas Bung Hatta dikunjungi oleh Prof (APU) Dr. Wijo Priono, M.Sc.

Pak Wijo begitu kami akrab memanggil beliau. Cerita banyak tentang stok assesment ikan, dinamika populasi ikan, akustik perikanan dan FAD (Fish Aggregating Davice) atau di Sumbar di kenal dengan Rumpon atau Rabo.

Hasil penelitian Prof. Wijo pada WPP 7/8 Laut Arafuru ditemukan ada pagar-pagar ikan yang dibuat oleh negara tetangga. Sehingga ikan lebih banyak bermain dan menetap di kawasan negara tetangga dari pada di Laut Timur Indonesia.

Hal ini juga dibuktikan oleh menurunya jumlah alat tangkap pole and line yang dioperasikan oleh masyarakat lokal.

Gerombolan ikan ini tertahan, karena adanya Rumpon Cangih yang di pasang negara tetangga, yang jadi daya pikat dan menjadi pagar bagi ruaya ikan dilaut lepas.

Beliau datang dalam rangka koordinasi, silaturahmi, karena akan dilaksanakan FGD di Sumbar dengan mengajak dan melibatkan dosen PSP UBH, khusus dosen dalam Mata Kuliah Alat Tangkap Ikan, Instrumentasi Penangkapan Ikan, Daerah Penangkapan Ikan, Kapal Perikanan dan Rumpon Canggih sebagai salah satu daya tarik untuk mengumpulkan ikan dengan menggunakan cahaya lampu (fototaksis positif).

Rumpon canggih tersebut sudah diuji coba di Tarusan, Pessel. Bahannya lebih ramah lingkungan, efisen. Dimana Rumpon Lampu Bawah Air di tempatkan didalam air saat dioperasikannya Alat Tangkap Bagan. Lampu bagan yang selama ini dipermukaan, kedepan akan hilang.
Jika masyarakat Nelayan Bagan Sumbar mau beralih ke teknologi baru.

Kegiatan FGD bulan depan nantinya melibat dinas, masyarakat lokal, PT UBH (FPIK PSP), Pusris KP-KKP, dimana Prof. Wijo beraktifitas sebagai salah seorang Ahli Peneliti Utama (Prof. Riset).

Kehadiran beliau di terima oleh Dekan FPIK UBH, Ir. Mas Eriza, MP, Kajur PSP, Ir. Bukhari, MS, para dosen ; Dr. Eni Kamal, Dr. Usman, Dr. Arlius, Dr. Junaidi, MS, dan salah satu tim Prof. Wijo adalah Ir. Ismuil, beliau Alumni FPIK, UBH (87).

Diskusi singkat sebelum Jumat, ditutup dengan Jum'atan bersama. Prof dan 4 teman beliau mau sholat di Mesjid Raya Sumbar. Sedangkan kami tetap shalat dimesjid kampus UBH tercinta.

Di ujung diskusi penutup Prof. Wijo janji akan memberikan Kuliah Umum di Pasca Sarjana UBH, sesuai permintaan Dr. Zaitul dan Harfiandri Damanhuri. Semoga terwujud, salam konservasi (hd/UBH/23 Nov 2018).
model cetak buat pdf untuk berita ini

Sosok : Prof. Dr. Ir. Hafrijal Syandri, MS, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Bung Hatta

Kamis 22 November 2018 - 01:16:00

FPIK, FPIK UBH - Bunghatta.ac.id. Prof. Dr. Ir. Hafrijal Syandri, M.S., Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Bung Hatta lahir di Pangian, 20 Januari 1960. Beliau menamatkan pendidikan (S1) di Universitas Riau, Bidang Ilmu Manajemen Sumberdaya Perairan tahun 1980-1984 dengan judul penelitian "Pengaruh Umpan terhadap Hasil Tangkapan Alat Trap-net". Kemudian, ia menamatkan pendidikan (S2) di IPB Bogor, bidang ilmu Biologi Reproduksi tahun 1990-1992 melalui judul riset "Biologi dan Reproduksi Ikan Bilih". Pendidikan Doktoral beliau diselesaikannya di IPB Bogor dengan bidang ilmu Biologi Reproduksi tahun 1993-1996 melalui judul riset "Aspek Reproduksi Ikan Bilih dan Kemungkinan Pembenihannya di Danau Singkarak".

Berbagai prestasi yang diraihnya dalam bidang penelitian di tingkat nasional, seperti Penelitian Hibah Bersaing, Penelitian Hibah Kompetensi, Penelitian Strategis Nasional, Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi, Insentif Riset Inovasi Nasional (SINas), Penelitian Fundamental, Riset Inovatif-Produktif (RISPRO) Implementatif, Penelitian Terapan Unggulan PT sejak tahun 2009 hingga 2018.Tidak hanya itu, 36 riwayat kerja sama di bidang penelitian lain yang pernah ia lakukan sejak 2001 hingga 2018.

Kemudian dalam hal pengabdian masyarakat, beliau juga memenangkan Kerja Sama PT PLN (Persero) Sektor Bukittinggi dengan LPPM Universitas Bung Hatta, Kerja Sama Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat dengan LPPM Universitas Bung Hatta, Kerja Sama PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Bukittinggi dengan LPPM Universitas Bung Hatta, Kerja Sama Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Tanah Datar dengan LPPM Universitas Bung Hatta, Kerja Sama Dinas Perikanan Kab. Lima Puluh Kota dengan LPPM Universitas Bung Hatta, Hibah KemenristekDikti, Kerja sama Kenagarian Mungo Kec. Luak Kab. Lima Puluh Kota dengan LPPM Universitas Bung Hatta.

Ia juga banyak terlibat di berbagai pertemuan ilmiah, seperti 2nd International Seminar of Fisheries and Marine Managing Aquatic Resources Toward Blue Economy, Workshop Pengelolaan Danau di Indonesia, Seminar Nasional Tahunan XI Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, Seminar Nasional V Hasil-Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Seminar Internasional Pada Lake World Conference ke-16 di Bali.

Karya-karya beliau dalam penulisan buku antara lain Ikan Bilih, Raja Kecil di Danau Singkarak (Bung Hatta University Press, 2006), Pengelolaan Budidaya Ikan di Perairan Umum (Bung Hatta University Press, 2008), Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Alam (2007), Domestikasi dan Teknologi Reproduksi Ikan (Bung Hatta University Press, 2010), Buku Indikasi Geografis Ikan Bilih Danau Singkarak (Kerja Sama dengan Dinas KKP Sumbar 2011), Gerakan Penyelamatan Danau Singkarak (Kerja sama dengan Kementrian Lingkungan Hidup RI, 2013), Gerakan Penyelamatan Danau Maninjau (Kerja sama dengan Kementrian Lingkungan Hidup RI, 2014)

Prof. Dr. Ir. Hafrijal Syandri, M.S mengajar pada tingkat S1 dan Pascasarjana. Adapun matakuliah yang diampu, antara lain Biologi Perikanan(S1), Managemen Teknologi Pembenihan Ikan (S1), Pengelolaan Sumberdaya Perairan (S1 dan S2), Teknologi Budidaya Perikanan (S2), Konservasi Sumberdaya Perairan (S2), dan lain sebagainya.

Dengan hadirnya pakar terbaik berskala nasional ini, tentunya para mahasiswa Universitas Bung Hatta, terutama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) patut berbangga karena dididik oleh dosen terbaik yang memiliki segenap prestasi dalam berbagai bidang. Apalagi FPIK Universitas Bung Hatta berhasil meraih akreditasi A pada semua program studinya. (Rio)
model cetak buat pdf untuk berita ini

KKP: Indonesia Terdepan Terapkan EAFM - Pendekatan Ekosistem Mengelola Perikanan

Jumat 26 Oktober 2018 - 00:03:35

Padang, FPIK UBH - Dirjen Perikanan Tangkap KKP, Sjarief Widjaja menyatakan, kemampuan mengelola sumber daya perikanan secara terpadu dengan mempertimbangkan asas keserasian terhadap dinamika dan harmonisasi sektoral, menjadi kata kunci dalam mewujudkan ketahanan dan keberlanjutan pangan. Sebab itu, pendekatan ekosistem dalam mengelola perikanan sangat penting diimplementasikan dengan pemanfaatan perikanan secara lestari, sehingga dapat menjadi motor penggerak dalam pembangunan ekonomi nasional.

“Saat ini, Indonesia telah diakui oleh dunia internasional sebagai negara terdepan dalam penerapan program pengelolaan perikananan dengan pendekatan ekosistem atau Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM). Dalam mendukung pengelolaan berbasis EAFM, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan juga secara aktif memfasilitasi penyusunan Standar Kompetensi Kerja Khusus (SK3) EAFM,” kata Sjarief Widjaja dalam acara evaluasi kinerja World Wide Fund (WWF) For Nature Indonesia di Jakarta.

Sjarief Widjaja mengungkankan, inisiasi EAFM di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia merupakan bukti konsistensi KKP dalam memacu produksi perikanan tanpa merusak ekosistem. Dimana, pengelolaan perikanan yang efektif dan bertanggung jawab akan menaungi tiga unsur yakni ekosistem, sosial ekonomi dan sistem pengelolaan perikanan. Adapun dalam mengidentifikasi kinerja pengelolaan perikanan merujuk pada enam domain. Keenam domain tersebut yakni sumber daya ikan, habitat, teknologi penangkapan ikan, sosial, ekonomi, dan kelembagaan.

“KKP membutuhkan dukungan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memiliki visi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan, khususnya pengelolaan kawasan lindung laut dan perikanan,” ungkap Sjarief.

Oleh sebab itu, lanjutnya, KKP bersama WWF terus menyuarakan pentingnya konservasi sumber daya kelautan dan perikanan kepada publik. Adapun kegiatan tersebut diwujudkan melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, penyuluhan dan kampanye. “Selama periode kesepakatan bersama ini, tercatat sudah lebih dari dua ribu sumber daya manusia Indonesia yang telah dilatih untuk menjalankan prinsip-prinsip konservasi dan pengelolaan perikanan berkelanjutan,” sambung Sjarief.

Semisalnya program seafood saver, KKP bersama WWF secara aktif memfasilitasi perusahaan perikanan di Indonesia untuk lebih mengutamakan pemanfaatan yang berkelanjutan seiring dengan trend permintaan pasar dunia atas produk-produk perikanan yang berkelanjutan. Di sisi lain, dukungan WWF juga terlaksana dalam aspek penelitian seperti dalam kegiatan tuna tagging dan penyusunan buku putih hiu serta pembentukan pokmaswas di kawasan-kawasan tempat WWF bekerja.

Lebih lanjut dijelaskan, WWF juga melaksanakan fasilitasi dalam sertifikasi ekolabel untuk aquaculture yaitu ASC (Aquaculture Stewardship Council) terhadap perusahaan perikanan budidaya di Indonesia, serta melalui jaringannya telah ikut mendukung upaya budidaya yang ramah lingkungan. “Dengan Diterapkannya EAFM pada praktik perikanan, Indonesia dapat meningkatkan produksi perikanan dan memperkuat daya saing produk hasil perikanan tangkap di pasar internasional,” jelasnya.

Program Kerjasama

Sebagai gambaran, selama empat tahun ini KKP telah menjalin kerja sama dengan WWF-Indonesia. Kerja sama ini difokuskan pada upaya pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan. Program kemitraan itu pun telah diimplementasikan dalam berbagai kegiatan seperti pendampingan kawasan konservasi dan konservasi penyu, dan hiu paus. Berakhirnya kerja sama antara KKP dengan WWF telah memberikan kontribusi secara aktif dalam menjaga kelestarian dan pemanfaatan yang bertanggung jawab terhadap sumberdaya kelautan dan perikanan. Pasalnya, program WWF sejalan dengan program pembangunan kelautan dan perikanan yang dicanangkan oleh KKP.

“Saya berharap kerja sama antara KKP dan WWF dapat dilanjutkan kedepan mengingat isu-isu terkait pengelolaan laut dan keberlanjutan pemanfaatan sumber daya laut masih menjadi tantangan yang perlu kita hadapi bersama. Tidak hanya dalam aspek ekonomi, namun juga terkait peran laut dalam aspek lingkungan dan sosial,” harapnya.

Pasalnya, seiring dengan pertambahan penduduk Indonesia yang diproyeksikan mencapai 305 juta jiwa pada 2035 nanti, kebutuhan sumber daya pangan dan energi akan meningkat hingga 40-70 persen. Oleh sebab itu, sektor kelautan dan perikanan menjadi garda terdepan bagi ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia. Isu ketahanan pangan tidak mesti bersumber dari darat. Banyak sumber pangan dari laut yang belum dioptimalkan. Jika merujuk pada data economic size sektor perikanan di tahun 2014 aktivitas ekonomi sektor kelautan mencapai Rp 337 triliun. Padahal 10 tahun lalu, nilai aktivitas ekonomi perikanan masih di bawah Rp 50 triliun dengan kenaikan rata-rata Rp 4,4 hingga 7,4 triliun per tahun. Sementara itu, jika berkaca pada tahun 2013 nilai perdagangan sektor kelautan dan perikanan tercatat sebesar 4,19 miliar dollar AS.

model cetak buat pdf untuk berita ini
Halaman   <<        >>  
Fasilitas Pencarian
Agenda Mei 2019
Belum ada agenda bulan ini.

SSRKJSM


12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031

Translate This Page
Copyright (c) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta
Dibangun oleh Tim Swakelola PTSS 2009 Univ. Bung Hatta bersama CV. Djamboe WebDesign