Link

Online

Pengunjung: 7, Anggota: 0...
paling banyak online: 61
(anggota: 0, pengunjung: 61) pada 06 Jun : 16:23
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom

Berita Duka

. (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Potensi Besar Perikanan Budidaya di Indonesia Saat Ini

Senin 10 Februari 2020 - 07:44:02

FPIK, FPIK UBH - Potensi Besar Perikanan Budidaya di Indonesia Saat ini dapat dilihat dari berbagai faktor. Faktor tersebut erat kaitannya dengan latar belakang dunia pertanian dan perikanan yang menunjang perikanan budidaya. Melihat potensi perikanan budidaya, seperti yang kita ketahui sebagai negara Agraris, Indonesia menempatkan pembangunan di bidang pertanian menjadi prioritas utama. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan salah satu negara yang memberikan komitmen tinggi terhadap pembangunan ketahanan pangan. Terlebih lagi sebagai komponen strategis dalam pembangunan nasional. Undang-Undang No. 7 tahun 1996 menyatakan bahwa perwujudan ketahan pangan merupakan kewajiban pemerintah bersama masyarakat.

Indonesia memiliki sumberdaya alam melimpah serta wilayahnya yang luas. Kondisi tersebut berpotensi untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi bagi penduduknya. Disamping jumlah penduduk yang besar menjadi potensi dalam pengembangan sektor pertanian di Indonesia. Sektor pertanian sendiri dalam arti luas mencakup pertanian rakyat. Sedangkan dalam arti sempit sektor pertanian terdiri dari berbagai subsektor yaitu perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan. Lebih khusus, sub sektor perikanan itu sendiri dikenal sebagai bagian integral pertanian atau sebagai sub sistem pertanian yang dalam arti luas adalah suatu proses biologis yang dikendalikan manusia. Menurut Undang-Undang No.9 Tahun 1985 tentang perikanan dapat disimpulkan salah satu sub sektor pertanian yang sangat berperan dalam pembudidayaan sumberdaya di perairan adalah usaha perikanan khususnya perikanan Budidaya.

Di Indonesia perikanan dibawahi oleh kementrian kelautan dan perikanan. Pembangunan perikanan memiliki tujuan untuk menyediakan bahan baku industri perikanan, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, meningkatkan perlindungan dan rehabilitasi serta memenuhi kebutuhan ikan bagi masyarakat. Disamping itu juga mendongkrak adanya bisnis perikanan. Pada umumnya orang lebih suka membagi perikanan budidaya menjadi tiga yaitu budidaya air laut, air payau dan air tawar. Saat ini budidaya air tawar sedang digalakkan pemerintah khususnya bagi para masyarakat yang ingin melakukan kegiatan budidaya namun letaknya jauh dari laut. Salah satu kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 32/MEN/2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan. Konsep ini bertujuan agar tercapainya peningkatan produksi untuk 10 komoditas unggulan perikanan budidaya. Komoditas unggulan tersebut antara lain rumput laut, udang, kakap, kerapu, bandeng, mas, nila, patin, lele dan gurame. Komoditas air tawar unggulan budidaya mengalami kenaikan seiring dengan program peningkatan budidaya air tawar. Seiring hal tersebut kebutuhan ikan bagi masyarakat semakin penting, maka sangat wajar jika usaha perikanan air tawar harus dipacu untuk dikembang-kan. Usaha tani dibidang perikanan air tawar memiliki prospek yang sangat baik karena sampai sekarang ikan konsumsi, baik berupa ikan segar maupun bentuk olahan, masih belum mencukupi kebutuhan konsumen (Murtidjo Bambang A, 2001). Hal ini menunjukkan adanya potensi besar perikanan budidaya di Indonesiahttps://bulelengkab.go.id/detail/artikel/potensi-besar-perikanan-budidaya-di-indonesia-saat-ini-83
model cetak buat pdf untuk berita ini

Kematian Massal Ikan di Kabupaten 50 Kota, Para Ahli Utarakan Penyelesaiannya

Senin 16 Desember 2019 - 03:01:29

gambar: wp FPIK UBH - Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Bung Hatta mengadakan diskusi ilmiah tentang Kajian Ekologi Perairan Penyebab dan Solusi Terkait Kematian Massal Ikan yang terjadi di hulu sungai Batang Maek Kecamatan Pangkalan Kabupaten 50 Kota Provinsi Sumatera Barat. Bertempat di Ruang Sidang Rektor, Kampus Proklamator I, Universitas Bung Hatta. Jumat (13/12/2019).

Diskusi merupakan pembahasan lanjutan terkait mulai menurunnya ekosistem perairan yang disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari faktor alam maupun faktor yang diakibatkan oleh tangan-tangan manusia. Aktivitas penambangan yang dilakukan oleh perusahaan besar, penebangan hutan dikawasan perairan, dan faktor lainnya yang membuat ekosistem semakin menurun.

Pembahasan dikusi berjalan dengan hangat dikarenakan dihadiri oleh pembahas yang berkompeten dalam bidang permasalahan yang terjadi, baik dari pemerintahan, dinas lingkungan hidup provinsi Sumatera Barat, perwakilan masyarakat maupun niniak mamak dari nagari Tanjung Balik, serta bidang akademisi dosen-dosen dan dari kalangan mahasiswa.

Wakil Bupati Kabupaten 50 Kota Ferizal Ridwan menuturkan pemerintah, masyarakat dan seluruh instansi terkait akan bekerja sama untuk menuntaskan polemik yang sudah bergulir, baik dalam menuntaskan aktivitas penambangan dan aktivitas ilegal lainnya yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar yang ada di wilayah tersebut.

"Kita akan maksimalkan, sehingga penanganan bisa dilakukan dengan baik bersama dengan seluruh kalangan masyarakat dan instansi," tutur Ferizal.

Ferizal juga berharap agar masyarakat memahami informasi permasalahan dengan baik. "Permasalahan yang dihadapi bukan dari segi alam dan aktivitas pertambangan saja, akan tetapi informasi yang didapat masyarakat banyak yang belum mengetahui yang sesungguhnya, sehingga masalah kecil menjadi sangat dibesarkan, diharapkan nantinya media informasi dapat meluruskan informasi yang sudah bergulir di masyarakat dan menyadarkan masyarakat agar dapat menyaring informasi terlebih dahulu," harap Ferizal.

Prof. Dr. Hafrijal Syandri, M.S pakar atau ahli bidang perikanan memaparkan kematian ikan yang terjadi bukan terjadi di hilir sungai, namun bisa terjadi di hulu sungai dikarenakan sifat dari air sendiri mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, sehingga ikan-ikan yang mati terbawa oleh arus ke hulu sungai.

Salah satu penyebabnya yaitu aktivitas pertambangan besar yang terjadi di kawasan tersebut, penguatan hukum atau legalitas dari masyarakat sangat perlu dikuatkan agar nantinya masyarakat dan pihak penambang tidak terjadi perselisihan dan ekosistem perairan di Kabupaten 50 Kota tetap lestari dengan baik.

Permasalahan yang terjadi diharapkan bisa terselesaikan, sehingga diskusi yang diadakan mendapat titik temu, tentunya hal demikian bukan menjadi tugas bagi pihak pemerintah saja namun masyarakat, kalangan akademisi, diharapkan nantinya turut andil dalam menyelesaikan permasalahan kematian massal ikan yang terjadi di sungai Batang Maek.

Semua argumentasi yang disampaikan dari masing-masing pembahas nantinya bisa menjadi tugas bersama dan evalusi kinerja dalam penangan kematian massal ikan yang terjadi di hulu sungai Batang Maek Kabupaten 50 Kota Provinsi Sumatera Barat.
"Dengan menerapkan aspek-aspek yang ada, nantinya diharapkan mendapat hasil yang diinginkan," tutur Hafrijal.

Joni Jasman, mahasiswa dari FPIK Universitas Bung Hatta mengatakan diadakannya diskusi ilmiah ini bertujuan untuk memecahkan permasalahan terkait kematian massal ikan di hulu sungai Batang Maek Kabupaten 50 Kota, sehingga tidak terjadi kembali permasalahan yang sama dan mendapat penanganan yang serius.

"Mahasiswa perikanan tentunya ikut berperan aktif dalam membawa perubahan dalam menangani permasalahan yang berkaitan dengan perairan khususnya perikanan, khususnya di Kabupaten 50 Kota," jelasnya.

Penguatan dari segala aspek tentunya sangat perlu dipertimbangkan, baik dari penguatan aspek hukum atau legalitas terhadap masyarakat. Aspek pertimbangan ekonomi kematian massal ikan akan berdampak signifikan, dikarenakan menurunnya perekonomian masyarakat khusunya nelayan. Aspek sosial dan lingkungan, dikarenakan dengan matinya ikan akan menimbulkan bau yang tidak sedap di lingkungan sekitar sungai batang Maek dan pendekatan dengan masyarakat mesti dimaksimalkan kembali agar masyarakat mendapat tindak lanjut dari hasil kerja yang telah dilaksanakan. Sumber : UKM Wawasan Proklamator
model cetak buat pdf untuk berita ini

5 orang Mahasiswa FPIK Terima Beasiswa dari Bank Indonesia

Kamis 07 November 2019 - 06:38:33

Padang, FPIK UBH - Berdasarkan Surat Bank Indonesia Nomor: 21/816/Pdg/Surat/B tanggal 15 Oktober 2019 yang disampaikan oleh Ir.Arlius,M.S.,P.hD, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta via WA Group FPIK didapatkan informasi bahwa bank Indonesia (BI) pada tahun 2019 ini memberikan beasiswa kepada 50 orang mahasiswa Universitas Bung Hatta. 5 (lima) orang penerima beasiswa tersebut adalah mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, 4 (empat) orang dari Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP) dan 1 (satu) orang dari Prodi Budidaya Perairan (BDP). Daftar nama mahasiswa penerima beasiswa dari BI tersebut adalah sebagai berikut:

Prodi PSP
1. Ananda Pratama (1710016211005)
2. Gema Fuadi (1610016211009)
3. Syifa Hardika Sipahutar (1710016211017)
4. Yeni Saputri (1910016211010)

Prodi BDP
1. Velira Gustia Dinda (1710016111022)

Semoga beasiswa ini menjadi pendorong bagi mahasiswa untuk memacu prestasi.
model cetak buat pdf untuk berita ini

Tenaga Laboran Universitas Malaysia Trenggano “Magang” di FPIK Universitas Bung Hatta

Rabu 11 September 2019 - 01:33:43

Padang, FPIK UBH - Berdasarkan informasi dari Ir. Mas Eriza, M.P (Dekan FPIK Periode 2015-2019) sejak tanggal 29 Agustus 2019 sd. 15 September 2019 3 (tiga) orang Tenaga Laboran dari Universitas Malaysia Trenggano melaksanakan Magang di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas. Materi yang di magangkan antara lain: Penangkapan Ikan (Alat Tangkap Ikan), Pengolahan Hasil Perikanan dan Budidaya Perikanan.

Selanjutnya mantan BAAK Universitas Bung Hatta ini menambahkan bahwa selain dari tenaga laboran, 5 (lima) mahasiswa Universitas Malaysia Trenggano juga melaksanakan magang di FPIK Universitas Bung Hatta selama 3 bulan (1 Juli – 25 September 2019) yang beraal dari2 Fakultas yakni Marine Biology dan Fisheries Faculty. Sebaliknya FPIK Universitas Bung Hatta ejak tahun 2017 juga mengirimkan mahasiswa untuk magang di UMT. Saat ini 2 (dua) orang alumni FPIK Bung Hatta sedang S-2 di UMT dengan beasiswa yakni: Randa Yulio dan Desi Asmara.
model cetak buat pdf untuk berita ini
Halaman       >>  
Fasilitas Pencarian
Belum ada agenda bulan ini.

SSRKJSM





12
3456789
10111213141516
17181920212223
242526272829
Translate This Page
Copyright (c) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta
Dibangun oleh Tim Swakelola PTSS 2009 Univ. Bung Hatta bersama CV. Djamboe WebDesign