Link

Online

Pengunjung: 6, Anggota: 0...
paling banyak online: 61
(anggota: 0, pengunjung: 61) pada 06 Jun : 16:23
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom

Berita Duka

. (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Kematian Massal Ikan di Kabupaten 50 Kota, Para Ahli Utarakan Penyelesaiannya

Senin 16 Desember 2019 - 03:01:29

gambar: wp FPIK UBH - Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Bung Hatta mengadakan diskusi ilmiah tentang Kajian Ekologi Perairan Penyebab dan Solusi Terkait Kematian Massal Ikan yang terjadi di hulu sungai Batang Maek Kecamatan Pangkalan Kabupaten 50 Kota Provinsi Sumatera Barat. Bertempat di Ruang Sidang Rektor, Kampus Proklamator I, Universitas Bung Hatta. Jumat (13/12/2019).

Diskusi merupakan pembahasan lanjutan terkait mulai menurunnya ekosistem perairan yang disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari faktor alam maupun faktor yang diakibatkan oleh tangan-tangan manusia. Aktivitas penambangan yang dilakukan oleh perusahaan besar, penebangan hutan dikawasan perairan, dan faktor lainnya yang membuat ekosistem semakin menurun.

Pembahasan dikusi berjalan dengan hangat dikarenakan dihadiri oleh pembahas yang berkompeten dalam bidang permasalahan yang terjadi, baik dari pemerintahan, dinas lingkungan hidup provinsi Sumatera Barat, perwakilan masyarakat maupun niniak mamak dari nagari Tanjung Balik, serta bidang akademisi dosen-dosen dan dari kalangan mahasiswa.

Wakil Bupati Kabupaten 50 Kota Ferizal Ridwan menuturkan pemerintah, masyarakat dan seluruh instansi terkait akan bekerja sama untuk menuntaskan polemik yang sudah bergulir, baik dalam menuntaskan aktivitas penambangan dan aktivitas ilegal lainnya yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar yang ada di wilayah tersebut.

"Kita akan maksimalkan, sehingga penanganan bisa dilakukan dengan baik bersama dengan seluruh kalangan masyarakat dan instansi," tutur Ferizal.

Ferizal juga berharap agar masyarakat memahami informasi permasalahan dengan baik. "Permasalahan yang dihadapi bukan dari segi alam dan aktivitas pertambangan saja, akan tetapi informasi yang didapat masyarakat banyak yang belum mengetahui yang sesungguhnya, sehingga masalah kecil menjadi sangat dibesarkan, diharapkan nantinya media informasi dapat meluruskan informasi yang sudah bergulir di masyarakat dan menyadarkan masyarakat agar dapat menyaring informasi terlebih dahulu," harap Ferizal.

Prof. Dr. Hafrijal Syandri, M.S pakar atau ahli bidang perikanan memaparkan kematian ikan yang terjadi bukan terjadi di hilir sungai, namun bisa terjadi di hulu sungai dikarenakan sifat dari air sendiri mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, sehingga ikan-ikan yang mati terbawa oleh arus ke hulu sungai.

Salah satu penyebabnya yaitu aktivitas pertambangan besar yang terjadi di kawasan tersebut, penguatan hukum atau legalitas dari masyarakat sangat perlu dikuatkan agar nantinya masyarakat dan pihak penambang tidak terjadi perselisihan dan ekosistem perairan di Kabupaten 50 Kota tetap lestari dengan baik.

Permasalahan yang terjadi diharapkan bisa terselesaikan, sehingga diskusi yang diadakan mendapat titik temu, tentunya hal demikian bukan menjadi tugas bagi pihak pemerintah saja namun masyarakat, kalangan akademisi, diharapkan nantinya turut andil dalam menyelesaikan permasalahan kematian massal ikan yang terjadi di sungai Batang Maek.

Semua argumentasi yang disampaikan dari masing-masing pembahas nantinya bisa menjadi tugas bersama dan evalusi kinerja dalam penangan kematian massal ikan yang terjadi di hulu sungai Batang Maek Kabupaten 50 Kota Provinsi Sumatera Barat.
"Dengan menerapkan aspek-aspek yang ada, nantinya diharapkan mendapat hasil yang diinginkan," tutur Hafrijal.

Joni Jasman, mahasiswa dari FPIK Universitas Bung Hatta mengatakan diadakannya diskusi ilmiah ini bertujuan untuk memecahkan permasalahan terkait kematian massal ikan di hulu sungai Batang Maek Kabupaten 50 Kota, sehingga tidak terjadi kembali permasalahan yang sama dan mendapat penanganan yang serius.

"Mahasiswa perikanan tentunya ikut berperan aktif dalam membawa perubahan dalam menangani permasalahan yang berkaitan dengan perairan khususnya perikanan, khususnya di Kabupaten 50 Kota," jelasnya.

Penguatan dari segala aspek tentunya sangat perlu dipertimbangkan, baik dari penguatan aspek hukum atau legalitas terhadap masyarakat. Aspek pertimbangan ekonomi kematian massal ikan akan berdampak signifikan, dikarenakan menurunnya perekonomian masyarakat khusunya nelayan. Aspek sosial dan lingkungan, dikarenakan dengan matinya ikan akan menimbulkan bau yang tidak sedap di lingkungan sekitar sungai batang Maek dan pendekatan dengan masyarakat mesti dimaksimalkan kembali agar masyarakat mendapat tindak lanjut dari hasil kerja yang telah dilaksanakan. Sumber : UKM Wawasan Proklamator
model cetak buat pdf untuk berita ini

5 orang Mahasiswa FPIK Terima Beasiswa dari Bank Indonesia

Kamis 07 November 2019 - 06:38:33

Padang, FPIK UBH - Berdasarkan Surat Bank Indonesia Nomor: 21/816/Pdg/Surat/B tanggal 15 Oktober 2019 yang disampaikan oleh Ir.Arlius,M.S.,P.hD, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta via WA Group FPIK didapatkan informasi bahwa bank Indonesia (BI) pada tahun 2019 ini memberikan beasiswa kepada 50 orang mahasiswa Universitas Bung Hatta. 5 (lima) orang penerima beasiswa tersebut adalah mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, 4 (empat) orang dari Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP) dan 1 (satu) orang dari Prodi Budidaya Perairan (BDP). Daftar nama mahasiswa penerima beasiswa dari BI tersebut adalah sebagai berikut:

Prodi PSP
1. Ananda Pratama (1710016211005)
2. Gema Fuadi (1610016211009)
3. Syifa Hardika Sipahutar (1710016211017)
4. Yeni Saputri (1910016211010)

Prodi BDP
1. Velira Gustia Dinda (1710016111022)

Semoga beasiswa ini menjadi pendorong bagi mahasiswa untuk memacu prestasi.
model cetak buat pdf untuk berita ini

Tenaga Laboran Universitas Malaysia Trenggano “Magang” di FPIK Universitas Bung Hatta

Rabu 11 September 2019 - 01:33:43

Padang, FPIK UBH - Berdasarkan informasi dari Ir. Mas Eriza, M.P (Dekan FPIK Periode 2015-2019) sejak tanggal 29 Agustus 2019 sd. 15 September 2019 3 (tiga) orang Tenaga Laboran dari Universitas Malaysia Trenggano melaksanakan Magang di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas. Materi yang di magangkan antara lain: Penangkapan Ikan (Alat Tangkap Ikan), Pengolahan Hasil Perikanan dan Budidaya Perikanan.

Selanjutnya mantan BAAK Universitas Bung Hatta ini menambahkan bahwa selain dari tenaga laboran, 5 (lima) mahasiswa Universitas Malaysia Trenggano juga melaksanakan magang di FPIK Universitas Bung Hatta selama 3 bulan (1 Juli – 25 September 2019) yang beraal dari2 Fakultas yakni Marine Biology dan Fisheries Faculty. Sebaliknya FPIK Universitas Bung Hatta ejak tahun 2017 juga mengirimkan mahasiswa untuk magang di UMT. Saat ini 2 (dua) orang alumni FPIK Bung Hatta sedang S-2 di UMT dengan beasiswa yakni: Randa Yulio dan Desi Asmara.
model cetak buat pdf untuk berita ini

2 ORANG DOSEN PRODI PSP DAN PRODI BDP MELAKSANAKAN PKM DI NAGARI SUNGAI PINANG, KABUPATEN PESISIR SELATAN

Senin 02 September 2019 - 05:21:58

FPIK, FPIK UBH - 2 orang Dosen berasal Prodi PSP dan Prodi BDP Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta telah melaksanakan PKM di Nagari Sungai Pinang, Kecamatan Koto X Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. PKM dengan skim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini dibiayai oleh Kemenristekdikti tahun Anggaran 2019. Ketua Tim PKM adalah Dr. Suparno, M.Si (Sebagai Ketua Tim dari prodi PSP) dan Dr. Ir. Abdullah Munzir, M.Si (Anggota Tim dari prodi BDP) dan Desy Aryanti, ST, MA (Anggota Tim dari prodi Arsitektur).
Nagari Sungai Pinang merupakan salah satu nagari di Kawasan Wisata Bahari Terpadu Mandeh diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 10 Oktober 2015. Luas daratan sebesar 15.620 Ha dan perairan laut seluas 18.650 Ha, kawasan ini mencakup wilayah merupakan bagian dari 5 (lima) Nagari di Kecamatan Koto XI Tarusan. Secara geografis Kawasan Mandeh terletak antara 00059’00” – 01011’05” LS dan 100019’00” – 100026’55” BT. Gugusan pulau-pulau kecil di Kawasan Wisata Bahari Terpadu Mandeh terdiri atas 11 (sebelas) pulau yaitu Pulau Nyamuk,Pulau Marak, Pulau Cubadak, Pulau Sironjong Kecil, Pulau Sironjong Gadang, Pulau Setan Kecil, Pulau Setan Gadang, Pulau Taraju Pulau Pagang, Pulau Ular, dan Pulau Nibung. Kawasan ini meliputi kawasan pesisir dengan teluk yang relatif terlindungi dengan daratan yang relatif sempit, pulau- pulau kecil di perairan Samudera Hindia, perairan laut yang tenang di kawasan teluk dalam, serta kawasan berbukti dan bergunung di wilayah bagian Barat.
Kawasan Mandeh oleh Pemerintah Pusat dimasukkan ke dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional (RIPPNAS) yang mewakili kawasan Barat Indonesia termasuk KPPN Pesisir Selatan dan sekitarnya, berdasarkan PP No 50 tahun 2011 tentang Rencana Induk Pengembangan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025. Mandeh dijuluki dengan The Paradise in The Shouth (Surga di Selatan), yang berarti bagian selatan Provinsi Sumatera Barat.
Nagari Sungai Pinang merupakan salah satu Nagari yang mempunyai potensi besar dalam pengembangan wisata bahari seperti selam (diving), snorkling, selancar (surfing), wisata jetsky, sunset, wisata pantai, wisata mangrove dan lain-lain. Untuk pengembangan dan pemberdayaan masyarakat Nagari ini perlu adanya peran Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bentuk Pengabdian pada Masyarakat. Beberapa permasalahan yang berhubungan dengan pengembangan wisata di Nagari Sungai Pinang adalah 1. Belum ada Peraturan Nagari untuk mengelola wisata di Nagari Sungai Pinang sehingga menciptakan keamanan dan ketentaraman masyarakat 2. Masyarakat belum banyak yang berbahasa Ingris untuk memandu turis asing 3. Homestay masyarakat belum siap menerima tamu mancanegara 4. Belum ada rumah makan di Nagari Sungai Pinang. 5. Pemberdayaan kelompok perempuan /PKK belum maksimal 6. Kerusakan ekosistem terumbu karang akibat pemutihan karang (Coral Bleaching) tahun 2016 sehingga banyak spot selam yang tak layak diselami lagi 7. Hasil tangkapan nelayan sudah menurun sekali 8. Peta sebaran obyek wisata bahari khusus Sungai Pinang belum ada 9. Sebagai daerah wisata bahari, sampah belum dikelola secara baik.
Topik dari PKM ini adalah “ PKM Peningkatan Daya Tarik Destinasi Wisata Bahari, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat”. Kegiatan yang dilakukan adalah Sosialisasi pengelolaan sampah di pesisir, Pemetaan partisipatif untuk pembuatan peta potensi obyek wisata, dan Pembuatan papan informasi obyek wisata. [ Selengkapnya... ]
model cetak buat pdf untuk berita ini
Halaman       >>  
Fasilitas Pencarian
Belum ada agenda bulan ini.

SSRKJSM


12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031

Translate This Page
Copyright (c) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta
Dibangun oleh Tim Swakelola PTSS 2009 Univ. Bung Hatta bersama CV. Djamboe WebDesign