Link

Online

Pengunjung: 3, Anggota: 0...
paling banyak online: 113
(anggota: 0, pengunjung: 113) pada 05 Mei : 03:32
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom

39 Tahun Universitas Bung Hatta

20 April 1981 - 20 April 2020 (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Membangun Poros Maritim Dunia Dalam Perspektif Tata Ruang Laut

Selasa 19 Mei 2020 - 17:55:49

gambar: cover-poros-maritim-2 FPIK UBH - Sejarah mencatat, kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya tertoreh pada abad ke-7 dan Majapahit abad ke-14. Siklus historis tersebut mengindikasikan kebangkitan maritim terjadi setiap tujuh abad. Sekarang abad ke-21 merupakan momentum untuk membangkitkan kembali kejayaan maritim.

Apalagi Indonesia memiliki keunggulan komparatif berupa berlimpah-ruahnya kekayaan sumber daya alam seperti ikan, minyak dan gas, keelokan alam bahari, jasa transportasi laut, dan lain-lain. Secara politis, dalam berbagai kesempatan, Presiden ke-7 RI Joko Widodo juga ingin mewujudkan Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia. Lalu, bagaimana tata ruang laut dapat membantu mewujudkan cita- cita mulia tersebut? Ada beberapa alasan utama tata ruang laut membantu menegakkan 5 pilar poros maritim. Tata ruang laut mengalokasikan ruang laut yang strategis untuk kepentingan sosial, ekonomi, budaya, dan Hankam.

Alasan lain, tata ruang laut dapat menyinergikan antara pemanfaatan ekonomi dan perlindungan (konservasi) sumber daya laut. Tata ruang laut juga mampu menggerakkan investor dan menyambungkan potensi antarwilayah dalam konektivitas ekonomi, sumber daya, beserta infrastrukturnya. Di samping itu, tata ruang laut di wilayah perbatasan dapat memberikan kekuatan diplomasi negara untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Lainnya, tata ruang laut juga dapat melindungi adat budaya dan kearifan lokal di laut.

Di buku ini, Anda juga dapat menyimak pengalaman Cina, Norwegia, AS, Grenadine, dan Eropa dalam merencanakan tata ruang laut. Hasilnya, negara mendapat pemasukan devisa yang tinggi, menciptakan ekonomi baru, meredam konflik antarpengguna, dan melestarikan lingkungan.

UNDUH E-BOOK di : https://kkp.go.id/an-component/media/upload-gambar-pendukung/DitJaskel/sbdn/Membangun_Poros_Maritim.pdf
model cetak buat pdf untuk berita ini

Dies ke- 39 Universitas Bung Hatta

Senin 20 April 2020 - 00:47:03

Padang, FPIK UBH - Perjalanan Panjang yang Bermakna

Tepat pada 20 April 2020, Universitas Bung Hatta berusia 39 tahun. Universitas Bung Hatta berdiri sejak 1981 di Padang. Memaknai perjalanan panjang ini, Ketua Badan Pengurus Yayasan Pendidikan Bung Hatta, H. Masri Hasyar, S.H., berkata, "Menyandang nama besar Dr. Mohammad Hatta tidaklah ringan. Beliau, dengan panggilan akrab Bung Hatta, adalah satu dari dua proklamator kemerdekaan Republik Indonesia yang dikenal sebagai pemimpin yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan berilmu tinggi, cinta kepada agamanya, berjiwa demokratis, dan mempunyai dedikasi yang penuh untuk perjuangan bangsa dan kesatuan nusantara. Oleh sebab itu, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebunghattaan, kami Yayasan Pendidikan Bung Hatta bersama Universitas Bung Hatta akan terus berupaya membentuk karakter mahasiswa agar ketika mereka tamat; mereka membawa perilaku baik Bung Hatta."

Untuk lebih lengkapnya silakan buka: https://bunghatta.ac.id/news-3214-utama1.html
model cetak buat pdf untuk berita ini

Potensi Besar Perikanan Budidaya di Indonesia Saat Ini

Senin 10 Februari 2020 - 07:44:02

FPIK, FPIK UBH - Potensi Besar Perikanan Budidaya di Indonesia Saat ini dapat dilihat dari berbagai faktor. Faktor tersebut erat kaitannya dengan latar belakang dunia pertanian dan perikanan yang menunjang perikanan budidaya. Melihat potensi perikanan budidaya, seperti yang kita ketahui sebagai negara Agraris, Indonesia menempatkan pembangunan di bidang pertanian menjadi prioritas utama. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan salah satu negara yang memberikan komitmen tinggi terhadap pembangunan ketahanan pangan. Terlebih lagi sebagai komponen strategis dalam pembangunan nasional. Undang-Undang No. 7 tahun 1996 menyatakan bahwa perwujudan ketahan pangan merupakan kewajiban pemerintah bersama masyarakat.

Indonesia memiliki sumberdaya alam melimpah serta wilayahnya yang luas. Kondisi tersebut berpotensi untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi bagi penduduknya. Disamping jumlah penduduk yang besar menjadi potensi dalam pengembangan sektor pertanian di Indonesia. Sektor pertanian sendiri dalam arti luas mencakup pertanian rakyat. Sedangkan dalam arti sempit sektor pertanian terdiri dari berbagai subsektor yaitu perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan. Lebih khusus, sub sektor perikanan itu sendiri dikenal sebagai bagian integral pertanian atau sebagai sub sistem pertanian yang dalam arti luas adalah suatu proses biologis yang dikendalikan manusia. Menurut Undang-Undang No.9 Tahun 1985 tentang perikanan dapat disimpulkan salah satu sub sektor pertanian yang sangat berperan dalam pembudidayaan sumberdaya di perairan adalah usaha perikanan khususnya perikanan Budidaya.

Di Indonesia perikanan dibawahi oleh kementrian kelautan dan perikanan. Pembangunan perikanan memiliki tujuan untuk menyediakan bahan baku industri perikanan, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, meningkatkan perlindungan dan rehabilitasi serta memenuhi kebutuhan ikan bagi masyarakat. Disamping itu juga mendongkrak adanya bisnis perikanan. Pada umumnya orang lebih suka membagi perikanan budidaya menjadi tiga yaitu budidaya air laut, air payau dan air tawar. Saat ini budidaya air tawar sedang digalakkan pemerintah khususnya bagi para masyarakat yang ingin melakukan kegiatan budidaya namun letaknya jauh dari laut. Salah satu kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 32/MEN/2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan. Konsep ini bertujuan agar tercapainya peningkatan produksi untuk 10 komoditas unggulan perikanan budidaya. Komoditas unggulan tersebut antara lain rumput laut, udang, kakap, kerapu, bandeng, mas, nila, patin, lele dan gurame. Komoditas air tawar unggulan budidaya mengalami kenaikan seiring dengan program peningkatan budidaya air tawar. Seiring hal tersebut kebutuhan ikan bagi masyarakat semakin penting, maka sangat wajar jika usaha perikanan air tawar harus dipacu untuk dikembang-kan. Usaha tani dibidang perikanan air tawar memiliki prospek yang sangat baik karena sampai sekarang ikan konsumsi, baik berupa ikan segar maupun bentuk olahan, masih belum mencukupi kebutuhan konsumen (Murtidjo Bambang A, 2001). Hal ini menunjukkan adanya potensi besar perikanan budidaya di Indonesiahttps://bulelengkab.go.id/detail/artikel/potensi-besar-perikanan-budidaya-di-indonesia-saat-ini-83
model cetak buat pdf untuk berita ini

Kematian Massal Ikan di Kabupaten 50 Kota, Para Ahli Utarakan Penyelesaiannya

Senin 16 Desember 2019 - 03:01:29

gambar: wp FPIK UBH - Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Bung Hatta mengadakan diskusi ilmiah tentang Kajian Ekologi Perairan Penyebab dan Solusi Terkait Kematian Massal Ikan yang terjadi di hulu sungai Batang Maek Kecamatan Pangkalan Kabupaten 50 Kota Provinsi Sumatera Barat. Bertempat di Ruang Sidang Rektor, Kampus Proklamator I, Universitas Bung Hatta. Jumat (13/12/2019).

Diskusi merupakan pembahasan lanjutan terkait mulai menurunnya ekosistem perairan yang disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari faktor alam maupun faktor yang diakibatkan oleh tangan-tangan manusia. Aktivitas penambangan yang dilakukan oleh perusahaan besar, penebangan hutan dikawasan perairan, dan faktor lainnya yang membuat ekosistem semakin menurun.

Pembahasan dikusi berjalan dengan hangat dikarenakan dihadiri oleh pembahas yang berkompeten dalam bidang permasalahan yang terjadi, baik dari pemerintahan, dinas lingkungan hidup provinsi Sumatera Barat, perwakilan masyarakat maupun niniak mamak dari nagari Tanjung Balik, serta bidang akademisi dosen-dosen dan dari kalangan mahasiswa.

Wakil Bupati Kabupaten 50 Kota Ferizal Ridwan menuturkan pemerintah, masyarakat dan seluruh instansi terkait akan bekerja sama untuk menuntaskan polemik yang sudah bergulir, baik dalam menuntaskan aktivitas penambangan dan aktivitas ilegal lainnya yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar yang ada di wilayah tersebut.

"Kita akan maksimalkan, sehingga penanganan bisa dilakukan dengan baik bersama dengan seluruh kalangan masyarakat dan instansi," tutur Ferizal.

Ferizal juga berharap agar masyarakat memahami informasi permasalahan dengan baik. "Permasalahan yang dihadapi bukan dari segi alam dan aktivitas pertambangan saja, akan tetapi informasi yang didapat masyarakat banyak yang belum mengetahui yang sesungguhnya, sehingga masalah kecil menjadi sangat dibesarkan, diharapkan nantinya media informasi dapat meluruskan informasi yang sudah bergulir di masyarakat dan menyadarkan masyarakat agar dapat menyaring informasi terlebih dahulu," harap Ferizal.

Prof. Dr. Hafrijal Syandri, M.S pakar atau ahli bidang perikanan memaparkan kematian ikan yang terjadi bukan terjadi di hilir sungai, namun bisa terjadi di hulu sungai dikarenakan sifat dari air sendiri mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, sehingga ikan-ikan yang mati terbawa oleh arus ke hulu sungai.

Salah satu penyebabnya yaitu aktivitas pertambangan besar yang terjadi di kawasan tersebut, penguatan hukum atau legalitas dari masyarakat sangat perlu dikuatkan agar nantinya masyarakat dan pihak penambang tidak terjadi perselisihan dan ekosistem perairan di Kabupaten 50 Kota tetap lestari dengan baik.

Permasalahan yang terjadi diharapkan bisa terselesaikan, sehingga diskusi yang diadakan mendapat titik temu, tentunya hal demikian bukan menjadi tugas bagi pihak pemerintah saja namun masyarakat, kalangan akademisi, diharapkan nantinya turut andil dalam menyelesaikan permasalahan kematian massal ikan yang terjadi di sungai Batang Maek.

Semua argumentasi yang disampaikan dari masing-masing pembahas nantinya bisa menjadi tugas bersama dan evalusi kinerja dalam penangan kematian massal ikan yang terjadi di hulu sungai Batang Maek Kabupaten 50 Kota Provinsi Sumatera Barat.
"Dengan menerapkan aspek-aspek yang ada, nantinya diharapkan mendapat hasil yang diinginkan," tutur Hafrijal.

Joni Jasman, mahasiswa dari FPIK Universitas Bung Hatta mengatakan diadakannya diskusi ilmiah ini bertujuan untuk memecahkan permasalahan terkait kematian massal ikan di hulu sungai Batang Maek Kabupaten 50 Kota, sehingga tidak terjadi kembali permasalahan yang sama dan mendapat penanganan yang serius.

"Mahasiswa perikanan tentunya ikut berperan aktif dalam membawa perubahan dalam menangani permasalahan yang berkaitan dengan perairan khususnya perikanan, khususnya di Kabupaten 50 Kota," jelasnya.

Penguatan dari segala aspek tentunya sangat perlu dipertimbangkan, baik dari penguatan aspek hukum atau legalitas terhadap masyarakat. Aspek pertimbangan ekonomi kematian massal ikan akan berdampak signifikan, dikarenakan menurunnya perekonomian masyarakat khusunya nelayan. Aspek sosial dan lingkungan, dikarenakan dengan matinya ikan akan menimbulkan bau yang tidak sedap di lingkungan sekitar sungai batang Maek dan pendekatan dengan masyarakat mesti dimaksimalkan kembali agar masyarakat mendapat tindak lanjut dari hasil kerja yang telah dilaksanakan. Sumber : UKM Wawasan Proklamator
model cetak buat pdf untuk berita ini
Halaman       >>  
Fasilitas Pencarian
Agenda Mei 2020
Belum ada agenda bulan ini.

SSRKJSM




123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Translate This Page
Copyright (c) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta
Dibangun oleh Tim Swakelola PTSS 2009 Univ. Bung Hatta bersama CV. Djamboe WebDesign