Link

Online

Pengunjung: 5, Anggota: 0...
paling banyak online: 61
(anggota: 0, pengunjung: 61) pada 06 Jun : 16:23
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom

Beasiswa Bank Indonesia

50 Mahasiswa Universitas Bung Hatta dapat Beasiswa dari Bank Indonesia (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Dosen FPIK Menjadi Narasumber Dalam Kegiatan Seminar

Dosen FPIK Menjadi Narasumber Dalam Kegiatan Seminar yang Dilaksanakan Oleh DKP Provinsi Sumatera Barat (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Selamat Datang Mahasiswa Baru FPIK Tahun 2019

. (Y.E/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

2 ORANG DOSEN PRODI PSP DAN PRODI BDP MELAKSANAKAN PKM DI NAGARI SUNGAI PINANG, KABUPATEN PESISIR

2 ORANG DOSEN PRODI PSP DAN PRODI BDP MELAKSANAKAN PKM DI NAGARI SUNGAI PINANG, KABUPATEN PESISIR (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

PKM Prodi PSP di UPTD Sentra Pengolahan Ikan Teri Pasia Nan Tigo

Penyuluhan tentang Proses Sertifikat HACCP Produk Ikan Teri (Y.E/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

5 orang Mahasiswa FPIK Terima Beasiswa dari Bank Indonesia

Kamis 07 November 2019 - 06:38:33

Padang, FPIK UBH - Berdasarkan Surat Bank Indonesia Nomor: 21/816/Pdg/Surat/B tanggal 15 Oktober 2019 yang disampaikan oleh Ir.Arlius,M.S.,P.hD, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta via WA Group FPIK didapatkan informasi bahwa bank Indonesia (BI) pada tahun 2019 ini memberikan beasiswa kepada 50 orang mahasiswa Universitas Bung Hatta. 5 (lima) orang penerima beasiswa tersebut adalah mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, 4 (empat) orang dari Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP) dan 1 (satu) orang dari Prodi Budidaya Perairan (BDP). Daftar nama mahasiswa penerima beasiswa dari BI tersebut adalah sebagai berikut:

Prodi PSP
1. Ananda Pratama (1710016211005)
2. Gema Fuadi (1610016211009)
3. Syifa Hardika Sipahutar (1710016211017)
4. Yeni Saputri (1910016211010)

Prodi BDP
1. Velira Gustia Dinda (1710016111022)

Semoga beasiswa ini menjadi pendorong bagi mahasiswa untuk memacu prestasi.
model cetak buat pdf untuk berita ini

Tenaga Laboran Universitas Malaysia Trenggano “Magang” di FPIK Universitas Bung Hatta

Rabu 11 September 2019 - 01:33:43

Padang, FPIK UBH - Berdasarkan informasi dari Ir. Mas Eriza, M.P (Dekan FPIK Periode 2015-2019) sejak tanggal 29 Agustus 2019 sd. 15 September 2019 3 (tiga) orang Tenaga Laboran dari Universitas Malaysia Trenggano melaksanakan Magang di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas. Materi yang di magangkan antara lain: Penangkapan Ikan (Alat Tangkap Ikan), Pengolahan Hasil Perikanan dan Budidaya Perikanan.

Selanjutnya mantan BAAK Universitas Bung Hatta ini menambahkan bahwa selain dari tenaga laboran, 5 (lima) mahasiswa Universitas Malaysia Trenggano juga melaksanakan magang di FPIK Universitas Bung Hatta selama 3 bulan (1 Juli – 25 September 2019) yang beraal dari2 Fakultas yakni Marine Biology dan Fisheries Faculty. Sebaliknya FPIK Universitas Bung Hatta ejak tahun 2017 juga mengirimkan mahasiswa untuk magang di UMT. Saat ini 2 (dua) orang alumni FPIK Bung Hatta sedang S-2 di UMT dengan beasiswa yakni: Randa Yulio dan Desi Asmara.
model cetak buat pdf untuk berita ini

2 ORANG DOSEN PRODI PSP DAN PRODI BDP MELAKSANAKAN PKM DI NAGARI SUNGAI PINANG, KABUPATEN PESISIR SELATAN

Senin 02 September 2019 - 05:21:58

FPIK, FPIK UBH - 2 orang Dosen berasal Prodi PSP dan Prodi BDP Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta telah melaksanakan PKM di Nagari Sungai Pinang, Kecamatan Koto X Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. PKM dengan skim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini dibiayai oleh Kemenristekdikti tahun Anggaran 2019. Ketua Tim PKM adalah Dr. Suparno, M.Si (Sebagai Ketua Tim dari prodi PSP) dan Dr. Ir. Abdullah Munzir, M.Si (Anggota Tim dari prodi BDP) dan Desy Aryanti, ST, MA (Anggota Tim dari prodi Arsitektur).
Nagari Sungai Pinang merupakan salah satu nagari di Kawasan Wisata Bahari Terpadu Mandeh diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 10 Oktober 2015. Luas daratan sebesar 15.620 Ha dan perairan laut seluas 18.650 Ha, kawasan ini mencakup wilayah merupakan bagian dari 5 (lima) Nagari di Kecamatan Koto XI Tarusan. Secara geografis Kawasan Mandeh terletak antara 00059’00” – 01011’05” LS dan 100019’00” – 100026’55” BT. Gugusan pulau-pulau kecil di Kawasan Wisata Bahari Terpadu Mandeh terdiri atas 11 (sebelas) pulau yaitu Pulau Nyamuk,Pulau Marak, Pulau Cubadak, Pulau Sironjong Kecil, Pulau Sironjong Gadang, Pulau Setan Kecil, Pulau Setan Gadang, Pulau Taraju Pulau Pagang, Pulau Ular, dan Pulau Nibung. Kawasan ini meliputi kawasan pesisir dengan teluk yang relatif terlindungi dengan daratan yang relatif sempit, pulau- pulau kecil di perairan Samudera Hindia, perairan laut yang tenang di kawasan teluk dalam, serta kawasan berbukti dan bergunung di wilayah bagian Barat.
Kawasan Mandeh oleh Pemerintah Pusat dimasukkan ke dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional (RIPPNAS) yang mewakili kawasan Barat Indonesia termasuk KPPN Pesisir Selatan dan sekitarnya, berdasarkan PP No 50 tahun 2011 tentang Rencana Induk Pengembangan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025. Mandeh dijuluki dengan The Paradise in The Shouth (Surga di Selatan), yang berarti bagian selatan Provinsi Sumatera Barat.
Nagari Sungai Pinang merupakan salah satu Nagari yang mempunyai potensi besar dalam pengembangan wisata bahari seperti selam (diving), snorkling, selancar (surfing), wisata jetsky, sunset, wisata pantai, wisata mangrove dan lain-lain. Untuk pengembangan dan pemberdayaan masyarakat Nagari ini perlu adanya peran Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bentuk Pengabdian pada Masyarakat. Beberapa permasalahan yang berhubungan dengan pengembangan wisata di Nagari Sungai Pinang adalah 1. Belum ada Peraturan Nagari untuk mengelola wisata di Nagari Sungai Pinang sehingga menciptakan keamanan dan ketentaraman masyarakat 2. Masyarakat belum banyak yang berbahasa Ingris untuk memandu turis asing 3. Homestay masyarakat belum siap menerima tamu mancanegara 4. Belum ada rumah makan di Nagari Sungai Pinang. 5. Pemberdayaan kelompok perempuan /PKK belum maksimal 6. Kerusakan ekosistem terumbu karang akibat pemutihan karang (Coral Bleaching) tahun 2016 sehingga banyak spot selam yang tak layak diselami lagi 7. Hasil tangkapan nelayan sudah menurun sekali 8. Peta sebaran obyek wisata bahari khusus Sungai Pinang belum ada 9. Sebagai daerah wisata bahari, sampah belum dikelola secara baik.
Topik dari PKM ini adalah “ PKM Peningkatan Daya Tarik Destinasi Wisata Bahari, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat”. Kegiatan yang dilakukan adalah Sosialisasi pengelolaan sampah di pesisir, Pemetaan partisipatif untuk pembuatan peta potensi obyek wisata, dan Pembuatan papan informasi obyek wisata. [ Selengkapnya... ]
model cetak buat pdf untuk berita ini

Ikan Bilih, Kembalilah anak yang hilang

Selasa 30 Juli 2019 - 01:54:32

gambar: hs1 Singkarak, FPIK UBH - TIDAK ada masyarakat Sumatera Barat, bahkan masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Ke Mauroke yang tidak pernah mendengar atau merasakan enak dan gurihnya ikan bilih yang berasal dari Danau Singkarak. Setiap rumah makan Padang sejak dahulu kala selalu menghidangkan lauk pauk yang berasal dari ikan bilih, kini hanya tinggal kenangan. Dahulu ketika ikan bilih yang hidup sebagai endemik di danau Singkarak diberi nama oleh seorang ahli perikanan Saanin dengan nama ʺIkan Bakoʺ. Konon kabarnya menurut dia orang minang punya bako. Ikan ini ditangkap oleh nelayan dengan alat tangkap alahan, jala, dan pukat dengan mengutamakan kearifan lokal sehingga populasinya sangat melimpah dikala itu. Saya masih ingat ketika tahun 1993 memulai penelitian disertasi saya tentang ikan bilih, saya bersama mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta melihat betapa ramainya masyarakat di muara sungai sumpur, baing, paninggahan, muara pingai dan saningbaka bergiliran saling datang dan pergi selama dua puluh empat jam menangkap ikan bilih, saya pun ikut berbaur dan bercengkrama dengan nelayan dimalan harinya menangkap ikan bilih dengan hanya menggunakan lampu togok dan senter. Ukuran ikan bilih yang tertangkap pada waktu itu rata-rata panjangnya mencapai 15 cm, bahkan ada yang tertangkap sampai ukuran 18 cm. Setiap nelayan yang melakukan penangkapan memakai alat tangkap jala di muara sungai tidak kurang dari sepuluh liter hasil yang diperolehnya selama dua sampai tiga jam menangkap ikan bilih. Begitu pula dengan hasil tangkapan alahan dan lukah yang dipasang di badan air sungai yang jaraknya sekitar 25-40 meter dari muara sungai bisa mendapatkan hasil 20-30 liter bahkan bisa lebih setiap pagi hari ketika panen hasil dilakukan. Ketika itu pendapatan nelayan ikan bilih sangat tinggi dan kehidupan keluarganya cukup sejahtera. Saya masih ingat ada seorang nelayan ikan bilih bisa melanjutnya kuliah anaknya di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada waktu itu.

Kini apa yang terjadi, ikan bilih jarang ditemukan dan tertangkap oleh nelayan, meskipun alat yang digunakan bagan menggunakan mata jaring kecil dan jaring insang (baca jaring langli) dengan mata jaring 5/8 inci. Kalaupun ada ikan bilih yang tertangkap ukuran tidak lebih dari lima sampai enam sentimeter. Kini muara sungai sumpur, baing, paningggahan, pingai dan Saningbaka sudah sepi, tidak adalagi nelayan yang menangkap ikan bilih, kalaupun ada hanya satu dan dua orang saja yang bisa bertahan yang hasilnya paling banyak satu tekong susu. Bukan berarti masyarakat nelayan ikan bilih ada pekerjaan lain yang lebih menguntungkan, susungguhnya tidak seperti itu, tapi mereka tidak lagi mendapatkan hasil tangkapan ikan bilih. Kemana ikan bilih menghilang, ada sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa ikan bilih hanyut dibawa oleh arus air melalui terowongan PLTA di Malalo menuju ke Asam Pulau di Wilayah Padang Pariaman, ada juga yang mengatakan bahwa ikan nila sudah sangat banyak di danau Singkarak yang lepas dari keramba jaring apung atau sengaja ditebar karena ketidak tahuan mereka bahwa ikan nila itu adalah bersifat invasif yang bisa memakan telur dan anak ikan bilih sehingga jumlah ikan bilih semakin berkurang. Namun pendapat ini secara ilmiah perlu kita buktikan.

Apa yang kita dapati hari ini bahwa ikan bilih jumlahnya sangat berkurang dan terancam punah dan menghilang di danau Singkarak adalah akibat ulah kita bersama. Pada masa enam sampai sepuluh tahun yang lalu masyarakat nelayan menangkap ikan bilih dengan alat yang tidak ramah lingkungan diantaranya adalah alat tangkap bagan yang jumlahnya pada tahun 2016 tidak kurang dari 512 unit dan jaring langli dengan jumlah 854 unit pada tahun 2001. Yang tidak memperbolehkan operasi alat tangkap bagan dan jaring langli hanya masyarakat nelayan nagari Sumpur dari tiga belas nagari yang ada di selingkar danau Singkarak. Dengan alat tangkap bagan dan jaring langli ikan bilih tidak bisa mencapai ukuran yang produktif untuk bisa bertelur dan memijah ke muara-muara sungai yang ada arus air seperti perilaku ikan salmon di belahan dunia sana. Kondisi yang terjadi pada masa lampau dan saat ini adalah jumlah ikan bilih yang ditangkap lebih banyak daripada ikan yang bisa bertelur dan anaknya tidak bisa tumbuh menjadi dewasa untuk dapat berkembangbiak. Jika keadaan ini dibiarkan secara terus menerus tanpa ada upaya kita untuk melakukan sesuatu untuk menyelamatkan ikan bilih, tentu kita akan kehilangan jenis ikan bilih yang kita banggakan di ranah minang ini Perlu kita sadari, bahwa sesungguhnya pengelolaan sumberdaya ikan bukanlah mengatur sumberdaya ikan semata, namun yang lebih penting adalah bagaimana mengantisipasi perilaku nelayan sehingga sejalan dengan kebijakan yang diterapkan.

Kita patut memberikan dukungan dan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera yang sangat peduli dengan keberlanjutan ikan bilih untuk masa yang akan datang yaitu dengan mengeluarkan Peraturan Gubernur Nomor No.81/2017 Tentang Penggunaan Alat dan Bahan Penangkapan Ikan di Perairan Danau Singkarak. Kita juga memberikan apresiasi kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Povinsi Sumatera Barat dan jajaran terkait termasuk aparat penegak hukum dan masyarakat setempat yang telah turun tangan secara bersama-sama mengimplementasikan Peraturan Gubenur di atas untuk melarang beroperasinya alat tangkap bagan yang belakangan ini sangat merisaukan kita. Tidak bisa dimungkiri ketika bagan dan jaring langli dioperasikan dengan mata jaring kecil, tentu akan tertangkap ikan bilih yang berukuran kecil, termasuk jenis ikan lain yang belum bernilai ekonomis untuk dipasarkan. Kita punya harapan dengan adanya penertiban alat tangkap ikan bilih, jumlah ikan bilih akan kembali meningkat yang pada gilirannya akan dapat mengangkat perekonomian masyarakat nelayan sekitar danau Singkarak.

Mari kita sadari secara bersama bahwa ikan bilih yang diberi nama ilmiah oleh Bleeker seorang ahli perikanan Belanda pada tahun 1916 dengan Mystacoleucus padangensis hanya ada satu species di dunia yang habitatnya di danau Singakarak. Meskipun pada tahun 2001 ikan bilih danau Singakarak pernah ditebarkan ke Danau Toba dengan jumlahnya pada waktu sekitar 5000 ekor, ternyata bisa tumbuh dan berkembangbiak sehingga dapat mengangkat perekomian masyarakat nelayan di danau yang luasnya sepuluh kali luas danau Singkarak, termasuk nelayan pengolah di Kawasan danau Singkarak, karena masyarakat di utara sana tidak bisa melacik ikan bilih. Namun belakangan ini kita dapat informasi bahwa ikan bilih di danau Toba sudah menghilang akibat ditangkap dengan alat tangkap bagan. Dua tahun terakhir ini PT. Semen Indonesia-Indarung dalam program unggulannya bekerjasama dengan Universitas Bung Hatta juga sudah berbuat untuk menyelamatkan ikan bilih dengan cara menebar ikan bilih pada sungai yang ada di komplek Semen Indarung, hasilnya ikan bilih bisa tumbuh dan berkembang. Ketika ikan bilih hilang, secara ekologi tentu akan berdampak kepada lingkungan perairan danau Singkarak yang secara tidak langsung mungkin saja akan berdampak kepada masyarakat tempatan dikemudian hari. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ketika anak ikan bilih tidak kembali. Oleh karena itu mari kita selamatkan ikan bilih dari kepunahan demi untuk anak cucu kita dikemudian hari. (Ditulis oleh Prof. Dr. Ir. Hafrijal Syandri, M.S.) Sumber: Harian Singgalang 30 Juli 2019 (https://e-paper.hariansinggalang.co.id/)
model cetak buat pdf untuk berita ini
Halaman       >>  
Fasilitas Pencarian
Belum ada agenda bulan ini.

SSRKJSM






1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031




Translate This Page
Copyright (c) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta
Dibangun oleh Tim Swakelola PTSS 2009 Univ. Bung Hatta bersama CV. Djamboe WebDesign