Link

Online

Pengunjung: 5, Anggota: 0...
paling banyak online: 61
(anggota: 0, pengunjung: 61) pada 06 Jun : 16:23
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom

Kuliah Umum bersama Prof. Dr. Muchtar Ahmad, M.Sc

Syukuran Hasil Akreditasi Unggul "A" Prodi BDP dan PSP FPIK, Kuliah Umum bersama Prof. Dr. Muchtar Ahmad, MSc. (Dekan FPIK Periode 1991-1993) (Y.E/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

5 Mantan Dekan FPIK Menerima Piagam Penghargaan

Rektor Universitas Bung Hatta menyerahkan Piagam Penghargaan kepada lima orang Mantan Dekan FPIK (Humas/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Rektor memberikan sambutan pada PKKMB FPIK 2018

Rektor Universitas Bung Hatta memberikan sambutan pada PKKMB FPIK 2018 (Humas/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

KKP: Indonesia Terdepan Terapkan EAFM - Pendekatan Ekosistem Mengelola Perikanan

Jumat 26 Oktober 2018 - 00:03:35

Padang, FPIK UBH - Dirjen Perikanan Tangkap KKP, Sjarief Widjaja menyatakan, kemampuan mengelola sumber daya perikanan secara terpadu dengan mempertimbangkan asas keserasian terhadap dinamika dan harmonisasi sektoral, menjadi kata kunci dalam mewujudkan ketahanan dan keberlanjutan pangan. Sebab itu, pendekatan ekosistem dalam mengelola perikanan sangat penting diimplementasikan dengan pemanfaatan perikanan secara lestari, sehingga dapat menjadi motor penggerak dalam pembangunan ekonomi nasional.

“Saat ini, Indonesia telah diakui oleh dunia internasional sebagai negara terdepan dalam penerapan program pengelolaan perikananan dengan pendekatan ekosistem atau Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM). Dalam mendukung pengelolaan berbasis EAFM, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan juga secara aktif memfasilitasi penyusunan Standar Kompetensi Kerja Khusus (SK3) EAFM,” kata Sjarief Widjaja dalam acara evaluasi kinerja World Wide Fund (WWF) For Nature Indonesia di Jakarta.

Sjarief Widjaja mengungkankan, inisiasi EAFM di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia merupakan bukti konsistensi KKP dalam memacu produksi perikanan tanpa merusak ekosistem. Dimana, pengelolaan perikanan yang efektif dan bertanggung jawab akan menaungi tiga unsur yakni ekosistem, sosial ekonomi dan sistem pengelolaan perikanan. Adapun dalam mengidentifikasi kinerja pengelolaan perikanan merujuk pada enam domain. Keenam domain tersebut yakni sumber daya ikan, habitat, teknologi penangkapan ikan, sosial, ekonomi, dan kelembagaan.

“KKP membutuhkan dukungan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memiliki visi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan, khususnya pengelolaan kawasan lindung laut dan perikanan,” ungkap Sjarief.

Oleh sebab itu, lanjutnya, KKP bersama WWF terus menyuarakan pentingnya konservasi sumber daya kelautan dan perikanan kepada publik. Adapun kegiatan tersebut diwujudkan melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, penyuluhan dan kampanye. “Selama periode kesepakatan bersama ini, tercatat sudah lebih dari dua ribu sumber daya manusia Indonesia yang telah dilatih untuk menjalankan prinsip-prinsip konservasi dan pengelolaan perikanan berkelanjutan,” sambung Sjarief.

Semisalnya program seafood saver, KKP bersama WWF secara aktif memfasilitasi perusahaan perikanan di Indonesia untuk lebih mengutamakan pemanfaatan yang berkelanjutan seiring dengan trend permintaan pasar dunia atas produk-produk perikanan yang berkelanjutan. Di sisi lain, dukungan WWF juga terlaksana dalam aspek penelitian seperti dalam kegiatan tuna tagging dan penyusunan buku putih hiu serta pembentukan pokmaswas di kawasan-kawasan tempat WWF bekerja.

Lebih lanjut dijelaskan, WWF juga melaksanakan fasilitasi dalam sertifikasi ekolabel untuk aquaculture yaitu ASC (Aquaculture Stewardship Council) terhadap perusahaan perikanan budidaya di Indonesia, serta melalui jaringannya telah ikut mendukung upaya budidaya yang ramah lingkungan. “Dengan Diterapkannya EAFM pada praktik perikanan, Indonesia dapat meningkatkan produksi perikanan dan memperkuat daya saing produk hasil perikanan tangkap di pasar internasional,” jelasnya.

Program Kerjasama

Sebagai gambaran, selama empat tahun ini KKP telah menjalin kerja sama dengan WWF-Indonesia. Kerja sama ini difokuskan pada upaya pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan. Program kemitraan itu pun telah diimplementasikan dalam berbagai kegiatan seperti pendampingan kawasan konservasi dan konservasi penyu, dan hiu paus. Berakhirnya kerja sama antara KKP dengan WWF telah memberikan kontribusi secara aktif dalam menjaga kelestarian dan pemanfaatan yang bertanggung jawab terhadap sumberdaya kelautan dan perikanan. Pasalnya, program WWF sejalan dengan program pembangunan kelautan dan perikanan yang dicanangkan oleh KKP.

“Saya berharap kerja sama antara KKP dan WWF dapat dilanjutkan kedepan mengingat isu-isu terkait pengelolaan laut dan keberlanjutan pemanfaatan sumber daya laut masih menjadi tantangan yang perlu kita hadapi bersama. Tidak hanya dalam aspek ekonomi, namun juga terkait peran laut dalam aspek lingkungan dan sosial,” harapnya.

Pasalnya, seiring dengan pertambahan penduduk Indonesia yang diproyeksikan mencapai 305 juta jiwa pada 2035 nanti, kebutuhan sumber daya pangan dan energi akan meningkat hingga 40-70 persen. Oleh sebab itu, sektor kelautan dan perikanan menjadi garda terdepan bagi ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia. Isu ketahanan pangan tidak mesti bersumber dari darat. Banyak sumber pangan dari laut yang belum dioptimalkan. Jika merujuk pada data economic size sektor perikanan di tahun 2014 aktivitas ekonomi sektor kelautan mencapai Rp 337 triliun. Padahal 10 tahun lalu, nilai aktivitas ekonomi perikanan masih di bawah Rp 50 triliun dengan kenaikan rata-rata Rp 4,4 hingga 7,4 triliun per tahun. Sementara itu, jika berkaca pada tahun 2013 nilai perdagangan sektor kelautan dan perikanan tercatat sebesar 4,19 miliar dollar AS.

model cetak buat pdf untuk berita ini

Menyelamatkan ikan bilih yang tersisih

Selasa 23 Oktober 2018 - 02:47:57

gambar: bilih
Singkarak, FPIK UBH - Gerimis turun di Danau Singkarakmenyamarkan riak sejak fajar menyingsing di Nagari Sumpu. Desa di tepian danau itu, mendung masih bergelayut. Tapi orang-orang sudah turun dari rumah mereka, pergi ke kota, ke sawah, ke sekolah, dan ke muara.

Nagari Sumpu merupakan nagari yang berada di Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Desa ini tepat berada di tepi Danau Singkarak yang memiliki lima jorong, yakni Jorong Suduik, Nagari, Subarang Aie Taman, Kubu Gadang, dan Batu Baraguang.

Hendri, Ketua Pemuda Jorong Subarang Aie Taman, turun dari rumah gadangnya memanggul jala. Sehari-hari ia mengurus ladang bawangnya di tepi sungai Batang Sumpu. Sesekali ia ke Muara, menebar jala, mencari ikan bilih yang mulai tersisih.

Ikan bilih (Mystacoleucus padangensis), merupakan ikan endemik Danau Singkarak yang berukuran sekitar 6-12 centimeter. Ikan tersebut dapat ditemui di selingkar Danau Singkarak, yang berada di dua kabupaten, yakni Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Namun belakangan, ikan tersebut sudah semakin sulit didapat, tangkapan nelayan tinggal sedikit, dan harga jual pun melonjak.

"Ikan bilih sekarang sudah susah dicari, sekali menjala hanya 3-4 ekor saja yang didapat, makanya nelayan sekarang juga banyak alih profesi," kata Hendri saat mencoba menjala ikan bilih di Muara Sumpu, Minggu (21/10).

Menurutnya, empat tahun lalu, ia bisa melihat sekumpulan ikan bilih berenang-renang di Muara sebelum ia menebar jala. Tapi sekarang, hanya sedikit yang terpantau .

"Sekarang banyak ikan nila di danau, daripada menangkap bilih yang hanya sedikit, lebih baik menangkap ikan nila," katanya.

Bahkan, kata dia, metode penangkapan bilih tradisional menggunakan "alahan" (media penampungan bilih di sungai) sudah tidak digunakan lagi karena tidak efisien. Ikan bilih merupakan ikan yang melakukan pemijahan dengan menyongsong aliran sungai yang bermuara ke danau.

Sejak dulu, kata Hendri, warga Nagari Sumpu sudah melestarikan ikan bilih dan menjadi kearifan lokal dengan membuat sejumlah peraturan bagi nelayan, di antaranya tidak boleh menggunakan putas, setrum, menggunakan jaring langli (pukat) bahkan tidak ada yang memasang bagan yang mampu menangkap anak-anak ikan bilih.

Akibat populasi ikan bilih yang berkurang drastis, Nagari Sumpu menambah peraturan di daerah mereka, yakni warga luar Nagari Sumpu dilarang melakukan penangkapan ikan di sepanjang Batang Sumpu dengan cara/alat apapun. Bagi yang melanggar, akan dikenakan sanksi sesuai aturan yang berlaku.

"Seandainya selingkar Danau Singkarak ini memberlakukan peraturan yang sama, pasti ikan bilih ini masih banyak. Tapi sekarang hanya kita yang menjaga, orang lain yang mendapatkan," katanya.

Hendri juga mengaku tidak tahu pasti penyebab utama berkurangnya populasi ikan bilih, selain karena penangkapan yang berlebihan. Ia sangat miris dengan kondisi sekarang, karena ikan bilih sudah menjadi makanan dan sumber mata pencarian mereka secara turun temurun. Dapur Bilih goreng pun sudah tidak ditemukan lagi di daerah itu, semuanya tutup.

"Rasa Ikan Bilih yang ditangkap di Muara Sumpu ini khas, gurih dan manis, berbeda dengan bilih di luar Sumpu," tambahnya.

Sementara itu, di tepian Danau Singkarak lainnya, yakni di Ombilin, Dapur Bilih Goreng juga mulai banyak yang tutup. Harga jual pun melonjak.

"Sekarang ikan bilih lagi kurang, harganya sekilo Rp120 ribu untuk yang mentah, untuk yang goreng Rp400 ribu/ kilogram," kata Mardianis, pedagang Bilih Goreng di Ombilin.

Mardianis mengakui, lebih banyak nelayan menyetor ikan nila ke dapurnya dibandingkan bilih. Dalam sehari, katanya, ikan nila bisa berkarung-karung datang.

Pembeli pun, kata dia, ikut berkurang dan mengeluh karena mahalnya harga ikan bilih melebih harga daging sapi. Tapi kendati demikian, masih ada sesekali konsumen yang memang sengaja mencari bilih dan membelinya walaupun harganya mahal.

Tidak Terpelihara

Peneliti Ikan Bilih Universitas Bung Hatta Padang, Prof Hafrijal Syandri, menjelaskan,ikan bilih ini satu-satunya di dunia hanya ada dan hidup di Danau Singkarak.

Sejak tahun 90-an sampai tahun 2000, kata dia, populasi ikan bilih cukup tinggi, namun sejak tahun 2000 sampai sekarang ikan bilih sudah sulit didapat.

"Kenapa populasinya berkurang, karena penangkapan yang tidak selektif. Ukuran mata jaringnya semakin kecil, ikan yang ditangkap pun semakin kecil," katanya.

Ia menjelaskan empat tahun belakangan, berkembang alat tangkap bagan untuk menangkap ikan bilih, menggunakan cahaya dengan ukuran mata jaring jaring selebar dua milimeter. Akibatnya, ikan bilih yang kecil juga tertangkap.

Akhirnya, kata Hafrijal, ikan bilih tidak bisa berkembang, tidak bisa lagi kawin, memijah, sehingga tidak ada lagi populasi baru di Danau Singkarak, sementara penangkapan ikan terus berlangsung.

"Kalau kita lihat, bagan itu sekarang tidak ada lagi hasilnya karena ikan bilih sudah sedikit. Seharusnya penanganan ikan bilih itu berkelanjutan, karena untuk anak cucu kita," katanya.

Menurut Hafrijal, upaya untuk pelestarian bilih tersebut sudah ada yakni pergub nomor 81 tahun 2017, isinya melarang alat tangkap bagan beroperasi di Danau Singkarak. Tapi menurutnya peraturan itu masih lemah, dan tidak melarang beroperasinya jaring tangkap insang.

"Kita juga harus memberikan kesadaran kepada masyarakat, terutama nelayan, bahwa ikan bilih itu sudah berkurang dan harus dilestarikan, dan jangan ditangkap dengan cara yang tidak sesuai aturan," tegasnya.

Sementara itu, upaya lain yakni dengan melakukan konservasi di luar habitat. Pihaknya bersama PT Semen Padang, sejak enam bulan lalu, mencoba memindahkan ikan bilih dari Danau Singkarak ke sungai dan kolam di Taman Keanekaragaman Hayati PT Semen Padang, di Indarung, Padang.

Ketua Tim Konservasi Ikan Bilih PT Semen Padang, Deni Zen mengatakan, ikan bilih yang hanya ada di Danau Singkarak itu, kini hampir punah tidak berkembangbiak dengan baik. Karena itu pihaknya terpanggil untuk berupaya menyelamatkan populasi bilih.

Awalnya pihaknya bersama Universitas Bung Hatta mempelajari lokasi berkembangnya Ikan Bilih seperti di Sumpu. Analisa itu dilakukan mulai dari pemeriksaan kadar air, ketinggian Taman Kehati Semen Padang dari permukaan laut, sumber makanan, serta menebar 400 ekor ikan bilih. Dari analisa itu, kata Deni, diketahui bahwa alam Taman Kehati di Indarung tidak jauh berbeda dengan Sumpu, Singkarak.

Sebelumnya, pihaknya berusaha mencari ikan bilih menggunakan metode alahan di Nagari Sumpu. Namun yang didapatkan hanya dua ekor saja. Kemudian, barulah ia mendapatkan bilih dari Nagari Paninggahan, Kabupaten Solok, kemudian ditebarkan di Indarung.

"Sampai sekarang, ikan bilihnya masih hidup di sungai dan kolam Taman Kehati ini. Bahkan ada 10 ekor ikan bilih yang dimasukan ke akuarium masih sehat sampai sekarang," katanya.

Menurutnya, ikan bilih termasuk ikan yang mudah stres. Saat dibawa dari Singkarak ke Padang, pihaknya memperlakukan ikan bilih tersebut secara khusus agar tidak mati melewati perjalanan darat.

Deni menjelaskan, siklus hidup Ikan Bilih, yakni mencari makan di danau, lalu naik ke sungai untuk kawin dan memijah, selanjutnya di sungai dia akan bertelur, maka telurnya mengalir lagi ke dalam danau.

"Satu ekor ikan bilih bisa bertelur sampai 5000 telur, dan daya tetasnya sampai 90 persen. Namun durasinya pendek, sekitar 20 jam selama reproduksi," katanya.

Namun demikian, pihaknya masih meneliti apakah bilih yang ditebar di sungai dan kolam Indarung tersebut bisa memijah, karena media seperti aliran sungai di Sumpu dan Paninggahan itu tidak ada.

Jika bilih bisa memijah di luar habitat mereka, kata Deni, maka ke depan ikan bilih tidak hanya ada di Singkarak, tapi juga ada di daerah lainnya. (*)

https://video.antaranews.com/clip/2018/10/20181022ikan-bilih.mp4

Sumber:https://sumbar.antaranews.com/berita/235130/menyelamatkan-ikan-bilih-yang-tersisih
model cetak buat pdf untuk berita ini

PKM Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di Sungai Pinang, Mandeh

Selasa 23 Oktober 2018 - 00:39:08

Padang, FPIK UBH - Penempatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) Universitas Bung Hatta di Nagari Sungai Pinang, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2017 menarik perhatian dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) untuk mengidentifikasi potensi dan kendala pengembangan ekonomi masyarakat setempat. Sebagai destinasi wisata bahari, kegiatan snorkeling dan diving merupakan magnet utama bagi turis mancanegara datang ke Sungai Pinang. Lokasi yang tahun 2018 ini dapat diakses dengan baik memberi peluang besar untuk promosi dan pengembangan ekonomi wisata bahari. Konsekuensinya, intensitas aktivitas pada ekosistem terumbu karang semakin meningkat. Karena itu ekosistem terumbu karang perlu dijaga kelestariannya.

Dr.Ir. Suparno, M. Si., Pakar Biologi Laut Prodi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan (PSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Bung Hatta bersama tim LPPM berhasil memenangkan dana Hibah Program Kemitraan Masyarakat dari Kemristekdikti tahun 2018 untuk pengembangan berkelanjutan wisata bahari Nagari Sungai Pinang.

Dr Suparno yang berpengalaman luas dalam penelitian terumbu karang dibantu oleh Anggota Tim, Dr. Ir. Abdullah Munzir, M. Si., dari Prodi Budi Daya Perairan (BDP) FPIK dan Karmila Suryani Suryani S.Kom, M.Kom dari Prodi Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Implementasi kegiatan pengabdian masyarakat yang dipimpin Dr. Suparno mendapat sambutan antusias dari berbagai elemen stakeholders mencakup core stakeholder, yaitu masyarakat mitra kerja yang dikoordinir David S.Pi (alumni FPIK), kalangan birokrat yakni Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Selatan dan unsur legislatif yakni Meni Mardanus, S.Pi, anggota DPRD Kabupaten Pesisir Selatan, yang juga adalah alumni FPIK.

Dr. Abudullah Munzir yang juga berpengalaman sebagai Team Leader Penyusunan Renstra Manajamen Terumbu Karang Sumbar tahun 2005 menjelaskan bahwa tujuan kegiatan PKM tahun 2018 ini adalah untuk meningkatkan kunjungan wisataman dengan membangun lokasi transplantasi karang untuk atraksi snorkeling dan diving; keterampilan manajemen mitra melalui pelatihan manajemen dan pembukuan keuangan sederhana; strategi pemasaran melalui pembuatan website mitra dan pelatihan pemasaran wisata bahari. Anggota Tim lainnya yaitu Karmila Suryani, S.Kom, M.Kom telah berkontribusi dalam kegiatan pelatihan manajemen Web sekaligus launching Website Wisata Bahari Nagari Sungai Pinang, di posting dengan domain www.wisatasungaipinang.com. Suryani menjelaskan bahwa website ini adalah sebagai salah satu sarana untuk promosi wisata bahari Sungai Pinang.

Dalam bentuk video silakan di buka https://youtu.be/raDQ0jyk0tA

(Rio)
model cetak buat pdf untuk berita ini

Dekan FPIK UBH Beri Sambutan dalam Acara BAPPENAS “Diskusi Tematik Regional Barat”

Kamis 18 Oktober 2018 - 23:07:00

gambar: dekan_fpik_bappenas
Padang, FPIK UBH - Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas Kementrian PPN mengundang Dekan FPIK UBH untuk beri sambutan dalam Diskusi Tematik Regional Barat di Hotel Ibis, Kamis (18/10). Dalam kesempatan itu, Ir. Mas Eriza, M.P., menyampaikan hal-hal terkait dengan penyusunan background study Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020 sampai dengan 2024.

Tema yang diangkat pada forum itu, yakni "Menuju Pembangunan Kelautan dan Perikanan yang Mandiri, Adil, dan Berkelanjutan di Tahun 2025". Turut hadir pula Wakil Dekan FPIK, Dr. Ir. Yusra, M.S dan para ketua prodi di selingkungan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Bung Hatta, Dra. Elfrida, M. Si, Apt., (Ketua Jurusan Budidaya Perairan), Bukhari, S. Pi., M. Si., (Ketua Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan) dan Dr. Ir. Abdullah Munzir, M. Si. sebagai pakar dan peneliti dari FPIK UBH.

Untuk lebih jelasnya silakan baca di https://bunghatta.ac.id/news-2841-utama2.html
model cetak buat pdf untuk berita ini
Halaman       >>  
Fasilitas Pencarian
Belum ada agenda bulan ini.

SSRKJSM



1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930

Translate This Page
Copyright (c) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta
Dibangun oleh Tim Swakelola PTSS 2009 Univ. Bung Hatta bersama CV. Djamboe WebDesign