Link

Online

Pengunjung: 3, Anggota: 0...
paling banyak online: 61
(anggota: 0, pengunjung: 61) pada 06 Jun : 16:23
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom

PT Semen Padang Teken Kerja Sama dengan Universitas Bung Hatta

PT Semen Padang menjalin kerja sama (MoU) dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bung Hatta, untuk melestarikan ikan bilih yang kini terancam kepunahan, Rabu (11 (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

5 Mahasiswa Universiti Malaysia Terengganu Ikuti Progam Magang di Universitas Bung Hatta

Bunghatta.ac.id. Sebanyak 5 mahasiswa Pusat Kajian Sains Perikanan dan Akuakultur Universiti Malaysia Terengganu melaksanakan program student exchange di Universitas Bung Hatta serta praktik lapangan di beberapa dinas terkait di Sumatra Barat.

Kel (Ubay/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

LIPI dan FPIK-UBH akan Perbaharui Data Kondisi Terumbu Karang Mentawai

Dekan FPIK Universitas Bung Hatta Ir. Mas Eriza,MP menyebukan bahwa, Puslitbang Oseanolgi LIPI dan FPIK Universitas akan segera memperbaharui data kondisi terumbu karang Mentawai (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Foto Bareng Menteri Kelautan dan Perikanan

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berfoto bersama dengan Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta di Jambak Sea Turtle Camp,Pasir Jambak. (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

Kunjungan Menteri Susi Di Ranah Minang

Memperingati Hari Pers Nasional Menteri Kelautan Dan Perikanan Susi Pudji Astuti Berkunjung Ke Ranah Minang

[i]Foto : Harian Rakyat Sumbar[/i] (/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Bung Hatta)

PT Semen Padang Teken Kerja Sama dengan Universitas Bung Hattabaru

Kamis 19 Juli 2018 - 01:15:40

gambar: ikan_biligambar: -1531381310
FPIK, FPIK UBH - Kerja sama yang berlangsung di Taman Reklamasi Semen Padang itu, ditandai dengan penandatangan kesepakatan kerjasama kedua belah pihak. Dari Semen Padang, penandatangan kerjasama itu, diwakili Kepala Departemen Rendal Produksi, Juke Ismara. Sedangkan dari Universitas Bung Hatta, diteken oleh Ketua LPPM Dr. Ir Abdullah Munzir, MS.


Penandatangan itu juga disaksikan langsung oleh seluruh Dewan Direksi PT Semen Padang, yaitu Dirut Yosviandri, Direktur Keuangan Tri Hartoni Rianto, dan Direktur Operasional Firdaus, serta turut hadir Komisaris Werry Darta Taiwur.

Usai penandatanganan kerjasama, kedua belah pihak kemudian langsung menebarkan 1000 bibit ikan bilih dari Danau Singkarak ke sungai yang ada di kawasan Konservasi Keanekaragaman Hayati (Kehati) Semen Padang tersebut.

Manajer Taman Kehati Semen Padang, Deni Zen mengatakan, kerja sama dengan LPPM Universitas Bung Hatta itu dilakukan, karena habitat Ikan Bilih di Danau Singkarak sudah mulai tercemar akibat pencemaran industri wisata, dan kadar sulfur yang makin meningkat.

Kemudian, metode penangkapan ikan bilih yang dieksploitasi secara besar-besaran tanpa mengindahkan proses pengembangannya, juga menyebabkan populasi ikan bilih di Danau Singkarak semakin punah. Bahkan, dampak dari metode penangkapan secara besar-besaran itu membuat ikan bilih susah didapatkan di Danau Singkarak.

"Harusnya, ikan bilih ini ditangkap pada saat naik ke sungai untuk bertelur, bukan di danau, karena danau adalah tempat ikan bilih berkembang dan membesar," kata Deni usai penandatangan MoU antara Semen Padang dengan LPPM Universitas Bung Hatta, Rabu pagi.

Deni menyebut kerjasama dengan LPPM Universitas Bung Hatta itu dilakukan, karena Semen Padang sebagai perusahaan semen yang terus menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan, ingin menyelamatkan kepunahan ikan bilih yang merupakan ikan endemik di Danau Singkarak.

"Ikan bilih jenis mictacoleucus padangensis ini di dunia hanya satu, yaitu di Danau Singakarak. Ada yang menyerupai, tapi itu bukan bilih. Sekarang populasinya terancam punah, dan Semen Padang merasa terpanggil untuk menyelamatkan ikan biih agar tidak punah," ujarnya.

Sebelum MoU ini dilakukan, Deni pun menyebut empat bulan lalu, Semen Padang bersama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta yang diwakili oleh Prof. Dr. Ir. Hafrijal Syandri, MS sebagai guru besar 'ikan bilih' di fakultas tersebut, sudah menganalisa ekosistem yang ada di Semen Padang.

Analisa itu dilakukan mulai dari pemeriksaan kadar air, ketinggian Taman Kehati Semen Padang dari permukaan laut, serta menebar 400 ekor ikan bilih. Dari analisa itu, diketahui bahwa alam Semen Padang tidak jauh berbeda dengan Singkarak.

"Bahkan dari 400 ekor ikan bilih yang disebar di sungai kawasan Kehati, ternyata sekitar 70 persen masih hidup. Sedangkan sisanya, mati karena dipengaruhui akibat resiko adaptasi," bebernya.

Melalui MoU ini, Deni pun mengatakan bahwa kini Taman Kehati Semen Padang tinggal menunggu waktu kapan ikan bilih itu mulai bertelur dan menetas. Kalau proses pengembangbiakan itu terjadi, maka Taman Kehati sendiri untuk jangka selanjutnya, akan menyebarkan ikan bilih tersebut ke daerah yang punya kesamaan topografi dengan Semen Padang.

"Jika itu terjadi, maka ke depan ikan bilih tidak hanya ada di Singkarak, tapi juga ada di daerah lainnya. Itu target kita. Untuk saat ini, kami dengan LPPM Bung Hatta akan terus memantau bagaimana perkembangan ikan bilih ini," tuturnya.

Disamping melestarikan ikan bilih, kata Deni melanjutkan, bagi Semen Padang sendiri, khususnya di Taman Kehati, tentunya pelestarian ikan bilih jenis mictacoleucus padangensis ini juga dapat menambah spesies yang ada di kawasan Kehati.

Dan penambahan spesies ini, juga sejalan dengan rogram Proper Emas 2020. "Saat ini Semen Padang masih Proper Hijau. Mudah-mudahan melalui pelestarian ikan endemik ini, maka target Proper Emas 2020 dapat terwujud," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan Hafrijal Syandri. Guru besar Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta yang sudah meneliti ikan bilih lebih dari 30 tahun itu menyebut bahwa ikan bilih bisa bertahan di sungai yang ada di kawasan Taman Kehati Semen Padang ini, karena beberapa faktor.

Di antaranya, PH air berkisar antara 6,5 sampai 7,8 dan itu cocok untuk pengembangan ikan bilih. Kemudian, arus sungai dan oksigennya juga cukup. Artinya, secara fisik dan kualitas air di sungai ini hampir sama dengan Danau Singkarak.

"PH air sungai Taman Kehati ini sama dengan Singkarak karena sumber airnya juga sama. Sebab, sebagian air yang mengalir ke Danau Singkarak itu berasal dari perbukitan yang sebagian airnya juga megalir ke Indarung ini," katanya.

Terkait metode penangkapan ikan bilih yang dieksploitasi secara besar-besaran, Hafrijal pun menyebut bahwa metode itu sudah lama dilakukan oleh masyarakat sekitar, termasuk pemodal. Bahkan, terkesan ada pembiaran.

Parahnya lagi, semakin ke depan metode itu juga terus berubah dan memperburuk situasi ikan bilih. Bahkan beberapa tahun belakangan ini, masyaraat menangkap ikan bilih tidak lagi menggunakan jaring, tapi bagan.

"Kalau dulu ditangkap menggunakan jaring, mulai dari jaring ukuran besar, hingga kecil. Kemudian kini ada metode penangkapan memakai bagan. Metode inilah yang membuat ikan bilih terancam kepunahan," ujarnya.

Bahkan melalui metode penangkapan menggunakan bagan itu, sambungnya, sebanyak 52 persen dari ikan bilih yang tertangkap merupakan ikan bilih yang masih kecil-kecil dan tidak ada nilai ekonomisnya.

"Oleh sebab itu, saya berharap Pemerintah Daerah mengeluarkan regulasi yang mengatur agar populasi ikan bilih dapat diselamatkan dari ancaman kepunahan," imbuh Hafrijal.

Sementara itu, Ketua LPPM Universitas Bung Hatta Abdullah Munzir, menyebut bahwa kerjasama dengan Semen Padang, khusunya dengan Taman Kehati, sangat penting bagi pihaknya, karena ikan bilih ini merupakan spesies endemik.

Oleh sebab itu, ia berharap agar ikan bilih di kawasan Taman Kehati ini bisa berkembang dengan baik, sehingga ke depan juga bisa dikembangkan di tempat lain. "Saya sangat mengapresiasi Semen Padang, karena turut peduli terhadap kelangsungan ikan bilih yang terancam kepunahan," katanya. (**Humas UBH/sumber: tribunpekanbaru.com )
model cetak buat pdf untuk berita ini

5 Mahasiswa Universiti Malaysia Terengganu Ikuti Progam Magang di Universitas Bung Hatta

Selasa 26 Juni 2018 - 09:30:51

gambar: img_650gambar: -1529988829upload FPIK, FPIK UBH - Sebanyak 5 mahasiswa Pusat Kajian Sains Perikanan dan Akuakultur Universiti Malaysia Terengganu melaksanakan program student exchange di Universitas Bung Hatta serta praktik lapangan di beberapa dinas terkait di Sumatra Barat. [ Selengkapnya... ]
model cetak buat pdf untuk berita ini

LIPI dan FPIK-UBH akan Perbaharui Data Kondisi Terumbu Karang Mentawai

Senin 26 Februari 2018 - 07:06:37

gambar: men3 FPIK UBH - Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta Ir. Mas Eriza,MP saat ditemui diruang kerjanya, Senin, 26/2-18 menyebutkan bahwa, Puslitbang Oseanolgi LIPI dan FPIK Universitas Bung Hatta telah menanda tangani MoU untuk melaksanakan pemantauan kesehatan terumbu karang dan ekosistim terkait di Kepulauan Mentawai.

Disebutkan Mas Eriza, MoU tersebut juga sekaligus awal untuk memperbaharui naskah kerja sama antara LIPI dengan Universitas Bung Hatta serta Puslitbang Oseanololgi-LIPI dengan Fakultas Perikanan yang pernah ditanda tangani sejak tahun 1995.

Mas Eriza menyebutkan bahwa, berdasarkan data dari hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2014 di KKPD itu, rata-rata tutupan karang hidupnya masih 25,67 persen, namun kondisi itu terus menurun pada 2015 dengan rata-rata tutupan karang hidupnya menjadi 23,36 persen, dan pada 2016 semakin parah ke angka 18,2 persen.

Penurunan kondisi terumbu karang tersebut salah satunya adalah akibat fenomena alam yaitu “bleaching coral”, karena meningkatnya suhu air di lautan hingga angka 33 - 34 derajat pada April hingga Juni 2016.
model cetak buat pdf untuk berita ini

Indrawadi Mantari dan Mabruri Tanjung : Pelestari Terumbu Karang Sumbar

Kamis 08 Februari 2018 - 07:41:41

gambar: sosok FPIK UBH - Peristiwa ”coral bleaching” atau pemutihan karang yang melanda perairan laut Sumatera Barat pada 2016 sempat membuat Indrawadi Mantari (47) dan Mabruri Tanjung (36) hampir putus asa. Terumbu karang hasil transplantasi yang sudah bertahun-tahun mereka tumbuhkan dengan sangat baik turut terdampak. English Version: The Men Behind Coral Reef Conservation in West Sumatra Pemutihan karang terjadi

lengkapnya klik : https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20180207/281887298759081
model cetak buat pdf untuk berita ini
Halaman       >>  
Fasilitas Pencarian
Agenda Juli 2018
Belum ada agenda bulan ini.

SSRKJSM






1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031




Download Terbaru
»International Journal of MediPharm (473.67 kb)
Kategori: Yusra
»Publikasi Terkini (4 kb)
Kategori: Dahnil Johar
»Proseding Bioeti 2 Yempita Yusra (395.1 kb)
Kategori: Yusra
»Proseding Bioeti Yusra_Yempita (558.47 kb)
Kategori: Yusra
»Prosiding Semnas Undip (679.62 kb)
Kategori: Yusra
Translate This Page
Copyright (c) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta
Dibangun oleh Tim Swakelola PTSS 2009 Univ. Bung Hatta bersama CV. Djamboe WebDesign